Pembacaan Al-Qur’an di kuburan

By:
Pembacaan Al-Qur’an di kuburan dan hadiah pahala bacaan untuk orang yang telah wafat

Membaca Al-Qur’an yang pahalanya dihadiahkan untuk orang yang telah wafat adalah pendapat jumhur (umum) dari golongan Ahlus-Sunnah. Menurut Imam Ahmad bin Hanbal dan segolongan dari sahabat Imam Syafi’i mengatakan bahwa pahalanya akan sampai kepada si mayit. Si pembaca sebaiknya mengucapkan do’a setelah pembacaan Al-Qur’an: ‘Ya Allah sampaikanlah pahala seperti pahala bacaan saya itu kepada si Anu’.


Marilah kita ikuti ,berikut ini, wejangan para pakar Islam mengenai pahala bacaan untuk orang yang telah wafat.

 Berkata Muhamad bin Ahmad al-Marwazi: “Saya mendengar Ahmad bin Hambal berkata: ‘Jika kamu masuk kepekuburan, maka bacalah Fatihatul kitab, al-ikhlas, al-Falaq dan an-Nas dan jadikanlah pahalanya untuk para penghuni kubur. Maka sesungguhnya pahala itu sampai kepada mereka. Tetapi yang lebih baik adalah agar si pembaca itu berdoa sesudah selesai dengan: ‘Ya Allah, sampaikanlah pahala ayat yang telah aku baca ini kepada si fulan….’”.(Hujjatu Ahlis Sunnah Wal-Jamaah hal.15).

 Ibnu ‘Ukeil berkata: “Jika seseorang melakukan amal kebaikan seperti sholat, puasa dan membaca Al-Qur’an dan dihadiahkannya –artinya pahalanya diperuntukkan bagi mayat Muslim– maka pahala itu (sebaiknya) didahului oleh niat yang segera disertai dengan perbuatan”. Pendapat beliau ini diperkuat juga oleh Ibnul Qayyim, disetiap negeri dan membaca Al-Qur’an lalu menghadiahkan kepada orang-orang yang telah meninggal diantara mereka, dan tak seorangpun yang membantahnya, hingga telah merupakan ijma (kesepakatan)”.

 Berkata Ibnul Qayyim: “Ibadat itu dua macam; mengenai harta (maliyah) dan mengenai badan (badaniyah). Dengan sampainya pahala sedekah, syara’ mengisyaratkan sampainya pada sekalian ibadat yang menyangkut harta, dan dengan sampainya pahala puasa, di-isyaratkan pula sampainya sekalian ibadah badaniyah. Kemudian dinyata kan pula sampainya pahala ibadah haji, suatu gabungan dari ibadah maliyah dan badaniyah. Maka ketiga macam bentuk ibadah itu –jelaslah sampainya (hadiah pahala)– baik dengan keterangan dari nash maupun dengan jalan perbandingan (Qiyas). (keterangan pembacaan Al-Qur’an kami nukil dari kitab Fiqih Sunnah oleh Sayid Sabiq jilid 4 hal. 217-218 cet. pertama th.1978).

 Menurut madzhab Hanafi, setiap orang yang melakukan ibadah –baik berupa do’a, istiqhfar, shadaqah, tilawatul Qur’an, dzikir, shalat, puasa, thawaf, haji, ‘umrah maupun bentuk-bentuk ibadah lainnya yang bersifat ketaatan dan kebaktian– dan berniat menghadiahkan pahalanya kepada orang lain, baik yang masih hidup atau yang telah wafat, pahala ibadah yang dilakukannya itu akan sampai kepadamereka dan juga akan diperolehnya sendiri. Demikianlah sebagaimana disebut dalam Al-Hidayah, Al-Bahr dan kitab-kitab lainnya. Di dalam kitab Al-Kamal terdapat penjelasan panjang lebar mengenai itu.

 Ditinjau dari dalil Ijma’ (sepakat) ulama dan Qiyas bahwa do’a dalam sholat jenazah akan bermanfaat bagi mayit, bebasnya hutang mayit yang di tanggung oleh orang lain sekalipun bukan keluarga (HR.Ahmad dari Abi Qatadah) dan lain sebagainya, semuanya ini bisa bermanfaat bagi mayit. Pahala itu adalah hak orang yang beramal. Jika ia menghadiahkan kepada saudaranya yang muslim, maka hal itu tidak ada halangan sebagaimana tidak dilarang menghadiahkan harta atau membebaskan hutang untuk orang lain diwaktu hidupnya dan setelah wafatnya. Begitu juga menghadiahkan pahala kurban untuk orang yang belum sempat berkurban, padahal kurban adalah melalui menumpahkan darah.

Begitu juga kita perhatikan arti fardhu kifayah, dimana sebagian orang bisa mewakili sebagian yang lain. Persoalan menghadiahkan pahala itu boleh/ mustahab, jadi bukan menggantikan pahala, sebagaimana seorang buruh tidak boleh digantikan orang lain, tapi gajiannya/upahnya boleh diberikan kepada orang lain jika ia mau. Islam telah memberikan penjelasan sampainya pahala ibadah badaniyyah seperti membaca Al-Qur’an dan lainnya diqiyaskan dengan sampainya puasa, karena puasa adalah menahan diri dari yang membatalkan disertai niat, dan itu pahalanya bisa sampai kepada mayit. Jika demikian bagaimana mungkin tidak sampainya pahala membaca Alqur’an yang berupa perbuatan dan niat juga?

Hubungan melalui agama merupakan sebab yang paling besar bagi sampainya manfaat orang Islam kepada saudaranya dikala hidup dan sesudah wafatnya. Bahkan do’a orang Islam dapat bermanfa’at untuk orang Islam lain. Al-Qur’an tidak menafikan seseorang mengambil manfaat dari usaha orang lain. Adapun amal orang lain adalah miliknya, jika orang lain tersebut menghadiahkan amalnya untuk dia, maka pahalanya akan sampai kepadanya bukan pahala amalnya. Allah swt. menjelaskan bahwa Dia tidak menyiksa seseorang karena kesalahan orang lain, dan seseorang tidak mendapatkan kebahagiaan kecuali dengan usahanya sendiri. Dan dalam firman-Nya itu, Allah swt. tidak menyatakan bahwa orang tidak dapat mengambil manfaat kecuali dari usahanya sendiri. Ini tidak lain menunjukkan keadilan Allah swt.

– Ibnu Taimiyyah didalam Fatawa-nya mengatakan: Adalah benar bahwa orang yang telah wafat beroleh manfaat dari semua ibadah jasmaniah seperti shalat, puasa, membaca Al-Qur’an dan lain-lain –yang dilakukan orang yang masih hidup baginya–. Ia (si mayit) pun beroleh manfaat juga dari ibadah maliyah seperti shadaqah dan sebagainya. Semua ini sama halnya jika orang yang masih hidup berdo’a dan beristiqhfar baginya. Mengenai ini para Imam madzhab sepakat.

– Ibnu Taimiyah mengatakan juga: "Sesungguhnya mayit itu dapat beroleh manfaat dengan bacaan Al-Qur'an sebagaimana dia beroleh manfaat dengan ibadah-ibadah kebendaan seperti sedekah dan yang seumpamanya" (Yasaluunaka fid din wal hayat jilid 1/442)

 Berkata Syeikh Ali bin Muhamad bin Abil Iz: “Adapun membaca Al-Qur’an dan menghadiahkan (pahala)nya kepada orang mati secara sukarela dengan tanpa upah, maka pahalanya akan sampai kepadanya sebagaimana sampainya pahala puasa dan haji”. (Syarah Aqidah Thahawiyah hal.457)

 Berkata Dr.Ahmad Syarbasi : “Sesungguhnya jumhur ulama telah menyebutkan bahwa bacaan Al-Qur’an Karim dapat memberi manfaat kepada mayit atau sampai pahala bacaan itu kepadanya. Dan terhadap yang demikian sekelompok ulama yang lain tidak menyetujui. Dan menurut mereka yang menyukai hal tersebut, akan menjadi bagus jika si pembaca berdoa sesudah selesai dengan: ‘Ya Allah, sampaikanlah seumpama pahala ayat yang telah aku baca kepada si fulan atau fulanah’”. (Yasaluunaka fid din wal hayat jilid 111/413).

 Ibnul Qayyim juga berkata dalam kitabnya Ar-Ruh: “Al-Khallal dalam kitabnya Al-Jami’ sewaktu membahas ‘Bacaan disamping kubur’, berkata: Menceriterakan kepada kami Abbas bin Muhamad ad-Dauri, menceriterakan kepada kami Yahya bin Mu’in, menceriterakan kepada kami Mubassyar al-Halabi, menceriterakan kepada kami Abdurrahman bin Ala’ bin al-Lajlaj dari bapaknya, dia berkata : Berkata bapakku: ‘Jika aku telah mati, maka letakkanlah aku diliang lahad dan ucapkanlah Bismillah wa ala sunnati Rasulillah dan ratakanlah tanah atasku dan baca permulaan al-Baqarah disamping kepalaku karena sesungguhnya aku mendengar Abdullah bin Umar mengatakan yang demikian. Ibnul Qayyim ini didalam kitab dan halaman yang sama juga mengutip ucapan Al-Khallal:

“Mengkabarkan kepadaku Hasan bin Ahmad al-Warraq, menceriterakan kepadaku Ali bin Musa al-Haddad dan dia adalah seorang yang sangat jujur, dia berkata: ‘Pernah aku bersama Ahmad bin Hambal dan Muhamad bin Qudomah al-Jauhari menghadiri jenazah, maka tatkala mayit itu telah dimakamkan, seorang lelaki yang kurus duduk disamping kubur (sambil membaca Al-Qur’an). Melihat itu berkatalah Imam Ahmad kepadanya: ‘Hai, sesungguhnya membaca Al-Qur’an disamping kubur itu bid’ah’! Maka tatkala kami keluar dari kubur berkatalah Muhamad bin Qudomah kepada Ahmad bin Hambal: ‘Wahai Abu Abdillah, bagaimana pendapatmu tentang Mubassyar al-Halabi? Imam Ahmad menjawab: ‘Beliau orang yang tsiqah (terpercaya), apakah engkau ada meriwayatkan sesuatu darinya? Muhamad bin Qudomah berkata: ‘Ya, mengkabarkan kepadaku Mubassyar dari Abdurrahman bin Ala’ bin al-Lajlaj dari bapaknya bahwa dia berwasiat apabila telah dikuburkan agar dibaca akan disamping kepalanya permulaan surat al-Baqarah dan akhirnya, dan dia berkata: Aku telah mendengar Ibnu Umar berwasiat dengan yang demikian itu’. Mendengar riwayat tersebut Imam Ahmad berkata: ‘Kembalilah dan katakan kepada lelaki itu agar diteruskan bacaan Al-Qur’annya’”.

 Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah juga berkata: "Sesuatu yang paling utama dihadiahkan kepada mayit adalah sedekah, istighfar, berdoa untuknya dan berhaji atas nama dia. Adapun membaca Al-Qur'an dan menghadiahkan pahalanya kepada si mayit dengan cara sukarela tanpa imbalan, maka akan sampai kepadanya, sebagaimana pahala puasa dan haji juga akan sampai kepadanya"(Yasaluunaka fid din wal hayat jilid 1/442)

 Berkata Syeikh Hasanain Muhamad Makhluf ,mantan mufti Mesir, : “Tokoh-tokoh madzhab Hanafi berpendapat bahwa tiap-tiap orang yang melakukan ibadah baik sedekah atau membaca al-Qur’an atau selain yang demikian daripada bermacam-macam kebaikan, boleh baginya menghadiahkan pahalanya kepada orang lain dan pahalanya itu akan sampai kepadanya”.

 Berkata Syeikh Ali Ma’shum: “Dalam madzhab Maliki tidak ada khilaf dalam hal sampainya pahala sedekah kepada mayit. Yang ada khilafnya adalah masalah boleh tidak- nya membaca Al-Qur’an untuk mayit. Menurut dasar madzhab, hukumnya makruh. Namun ulama-ulama mutaakhhirin berpendapat boleh dan itulah yang diamalkan. Dengan demikian, maka pahala bacaan tersebut sampai kepada mayit dan Ibnu Farhun menukil bahwa pendapat inilah yang rojih (kuat)”. (Hujjatu Ahlis Sunnah wal-jamaah hal.13).

 Berkata Allamah Muhamad al-Arobi: “Sesungguhnya membaca Al-Qur’an untuk orang-orang yang sudah meninggal hukumnya boleh dan sampai pahalanya kepada mereka menurut jumhur fuqaha Islam Ahlus Sunnah wal Jamaah, walaupun dengan adanya imbalan berdasarkan pendapat yang tahqiq”. (Majmu’ Tsalatsi rosaail).

 Berkata Imam Qurtubi : “Telah ijmak ulama atas sampainya pahala sedekah untuk orang-orang yang sudah wafat, maka seperti itu pula pendapat ulama dalam hal bacaan Al-Qur’an, doa dan istiqfar karena masing-masingnya termasuk sedekah dan dikuatkan hal ini oleh hadits: ‘Setiap kebaikan adalah sedekah’. Disini tidak dikhususkan sedekah itu dengan harta”. (Tadzkirah Al-Qurtubi hal.26).

 Berkata Imam Sya’bi: “Orang-orang Anshar jika ada diantara mereka yang wafat, maka mereka berbondong-bondong kekuburnya sambil membaca Al-Qur’an disamping- nya”. (ucapan Sya’bi ini dikutip oleh Ibnul Qayim dalam kitabnya Ar-Ruh hal.13).

 Ibnu Taimiyah pernah ditanya tentang bacaan Al-Qur’an untuk mayit dan juga tentang tasbih, tahmid, tahlil dan takbir jika dihadiahkan kepada mayit, sampaikah pahalanya atau tidak? Beliau menjawab sebagaimana tersebut dalam kitab beliau Majmu’ Fatawa jilid 24 hal.324: “Sampai kepada mayit pahala bacaan Al-Qur’an dari keluarganya. Dan tasbih, takbir serta seluruh dzikir mereka kepada Allah Taala apabila mereka menghadiahkan pahalanya kepada mayit akan sampai pula kepadanya”.

Dengan adanya kutipan kami yang singkat ini ,dapatlah kita ketahui bahwa banyak para ulama selain madzhab Syafi’i, yang menyetujui hadiah pahala bacaan Al-Qur’an. Mari kita ikuti kajian berikut ini.

 Hadits tentang wasiat Ibnu Umar ra yang tertulis dalam syarah Aqidah Thahawiyah hal. 458:
عَنِ إبْنِ عُمَر(ر) أوْصَى أنْ يُقْرَأ عَلَى قَبْرِهِ وَقْتَ الدَفنِ بِفَوَاتِحِ سُوْرَةِ البَقَرَةِ وَخَوَاتِمِهَا
Artinya: “Dari Ibnu Umar ra: “Bahwasanya beliau berwasiat agar diatas kuburnya nanti sesudah pemakaman dibacakan awal-awal surat al-Baqarah dan akhir-nya.. ".

Hadits ini menjadi pegangan Muhammad bin Hasan dan Imam Ahmad bin Hanbal padahal Imam Ahmad ini sebelumnya termasuk orang yang mengingkari sampainya pahala amalan dari orang yang hidup pada orang yang telah mati. Namun setelah beliau mendengar dari orang-orang kepercayaan tentang wasiat Ibnu Umar ini beliaupun mencabut pengingkarannya itu (Mukhtasar Tazkirah Qurtubi hal. 25).

– Ada hadits yang serupa diatas, dalam Sunan Baihaqi dengan isnad Hasan:“Bahwasanya Ibnu Umar menyukai agar dibaca diatas pekuburan sesudah pemakaman awal surat Al-Baqarah dan akhirnya”.

Perbedaan dua hadits terakhir diatas ialah yang pertama adalah wasiat Ibnu Umar sedangkan yang kedua adalah pernyataan bahwa beliau menyukai hal tersebut.

 Hadits dari Ibnu Umar ra. bahwa Rasulallah saw.bersabda:”Jika mati seorang dari kamu, maka janganlah kamu menahannya dan segeralah membawanya kekubur dan bacakanlah Fatihatul Kitab disamping kepalanya”. (HR. Thabrani dan Baihaqi)
 Abu Hurairah ra.meriwayatkan bahwasanya Nabi saw. bersabda: “Barangsiapa yang berziarah di kuburan, kemudian ia membaca ‘Al-Fatihah’, ‘Qul Huwallahu Ahad’ dan ‘Alhaakumut takatsur’, lalu ia berdo’a Ya Allah, kuhadiahkan pahala pembacaan firman-Mu pada kaum Mu’minin dan Mu’minat penghuni kubur ini, maka mereka akan menjadi penolong baginya (pemberi syafa’at) pada hari kiamat”.

Hadits-hadits diatas atau hadits-hadits lainnya dijadikan dalil yang kuat oleh para ulama untuk menfatwakan sampainya pahala pembacaan Al-Qur’an bagi orang yang telah wafat. Apa mungkin para sahabat Nabi seperti Ibnu ‘Umar dan Abu Hurairah [ra] mengeluarkan kata-kata yang mengandung ilmu ghaib (yaitu mengenai imbalan pahala) kalau tidak dari Rasulallah saw.? Mungkinkah para sahabat itu meriwayatkan sesuatu amalan yang berbau kesyirikan atau larangan dalam agama Islam? Mereka berdua adalah termasuk salah satu tokoh dari golongan Salaf Sholeh, mengapa golongan pengingkar ini menolaknya ?

Ustadz Quraish Shihab ,seorang ulama di Indonesia, dalam bukunya Fatwa-fatwa Seputar ibadah dan Muamalah halaman 27 mengenai ‘berdo’a dan membacakan Al-Qur’an untuk orang mati’ menulis sebagai berikut:

“Berdo’a untuk kaum Muslimin yang hidup atau yang sudah wafat adalah anjuran agama. Membaca Al-Qur’an juga merupakan salah satu bentuk ibadah yang dianjurkan. Hanya saja, terdapat perbedaan paham di kalangan para ulama masalah bermanfaat atau tidaknya bacaan itu bagi orang yang telah wafat. Memang, dalam kitab-kitab hadits, ditemukan yang menganjurkan pembacaan Al-Qur’an bagi orang yang akan atau telah wafat. Diantaranya, Abu Dawud meriwayatkan bahwa sahabat Nabi, Ma’qil bin Yasar, menyatakan bahwa Nabi saw. bersabda: ‘Bacalah surat Yaa Sin untuk orang-orang yang (akan atau sudah) mati (dari kaum Muslim)’.

Nilai keshohihan hadits diatas ini dan semacamnya masih ada yang memperselisihkannya. Sekalipun ada golongan yang mengatakan hadits-hadits tersebut lemah atau tidak ada sama sekali tidak ada halangan untuk membaca ayat Al-Qur’an bagi orang yang akan wafat atau telah wafat. Dikalangan para ulama hadits, dikenal kaidah yang menyatakan bahwa hadits-hadits yang tidak terlalu lemah dapat diamalkan khususnya dalam bidang fadhail (keutamaan) !

Para Ulama juga menyatakan bahwa membaca Al-Qur’anpada dasarnya dibenarkan oleh agama dan mendapat pahala, kapan (kecuali orang yang sedang junub/haid--pen.) dan dimanapun berada (kecuali di WC--pen.). Diantara perselisihan ulama itu adalah ‘Apakah dapat diterima hadiah pahala bacaan tersebut oleh almarhum atau tidak! (Jadi bukan masalah pembacaannya! --pen.)

Syekh Muhammad Al-Syarabashi dalam bukunya Yas’alunaka mengutip pendapat Al-Qarafi dalam kitab Al-Furuq bahwa kebaikan yang dilakukan seseorang untuk orang lain yang telah meninggal mencakup tiga kategori:

a). Disepakati tidak bermanfaat: memberi pahala keimanan kepada orang yang telah wafat.
b). Disepakati bermanfaat: seperti shodaqah yang pahalanya diberikan kepada orang telah wafat.
c) Diperselisihkan apakah bermanfaat atau tidak: seperti menghajikan, berpuasa dan membaca Al-Qur’an untuk orang yang telah meninggal.

Sementara madzhab Abu Hanifah, Ahmad bin Hanbal, berpendapat pahalanya dapat diterima oleh yang telah mati. Kemudian Imam Al-Qarafi yang bermadzhab Maliki ini menutup keterangannya bahwa persoalan ini (pahala untuk yang wafat), walaupun diperselisihkan, tidak wajar untuk ditinggalkan dalam hal pengamalannya. Sebab, siapa tahu, hal itu benar-benar dapat diterima oleh orang yang telah wafat, karena yang demikian itu berada diluar jangkauan pengetahuan kita.

Perbedaan pendapat terjadi bukan pada hukum boleh tidaknya membaca Al-Qur’an untuk orang yang akan atau telah wafat, melainkan pada kenyataan sampai tidaknya pahala bacaan itu kepada si mayit!“ Demikianlah keterangan yang diungkapkan oleh Ustadz Quraish Shihab dalam bukunya ‘Fatwa-fatwa seputar ibadah dan muamalah’.

Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa para pakar Islam yang mengakui sampainya hadiah pahala bacaan, yang ditujukan untuk simayit diantaranya sebagai berikut:
"Imam Ahmad bin Hanbal; ulama-ulama dalam madzhab Hanafi, Maliki dan madzhab Syafi’i; Muhammad bin Ahmad al-Marwazi dalam kitab Hujjatu Ahli Sunnah Wal-Jama’ah hal.15 ; Syaikh Ali bin Muhammad bin Abil Iz (Syarah Aqidah Thahawiyah hal. 457); Dr. Ahmad Syarbasi ( Yasaluunaka fid din wal-hayat 3/413 ); Ibnu Taimiyyah (Yasaluunaka fid din wal-hayat jilid 1/442 ) ; Ibnul Qayyim al-Jauziyyah (Yasaluunaka fid din wal-hayat jilid 1/442) juga Ibnul Qayyim dalam kitabnya Ar-Ruh mengatakan bahwa “Al-Khallal dalam kitabnya Al-Jami’ “ sewaktu membahas ‘Bacaan disamping kubur’ ; Al-Allamah Muhammad al-Arobi (Majmu’ Tsholatsi Rosaail ) ; Imam Qurtubi (Tazkirah Al-Qurtubi hal. 26 ) ; Imam Sya’bi mengatakan: ‘Orang-orang Anshor jika ada diantara mereka yang wafat, maka mereka berbondong-bondong kekuburnya sambil membaca Al-Qur’an disampingnya (kuburan nya)’. Ucapan Syekh Sya’bi ini dikutip oleh Ibnul Qayyim dalam kitabnya Ar-Ruh halaman 13; Ibnu Taimiyyah dalam Majmu’ Fatawa.

Dan masih banyak lagi para ulama berbeda madzhab yang membenarkan hadiah pahala bacaan ini. Jadi jelas bagi kita setelah membaca dan meneliti kutipan pada lembaran sebelum dan berikut ini banyak hadits Nabi saw. serta anjuran para sahabat dan para pakar Islam tentang dibolehkannya serta sampainya pahala amalan orang yang masih hidup ditujukan kepada si mayyit. Disamping itu, semua madzhab sepakat bahwa pembacaan Al-Qur’an akan mendapat pahala bagi pembacanya kapan dan dimana pun, yang mana pahala itu selalu diharapkan oleh setiap muslim.

Kita tidak boleh langsung menuduh suatu amalan itu haram untuk diamalkannya, karena menurut pendapat sebagian ulama hadits mengenai amalan itu lemah, palsu, atau tidak ada haditsnya. Kita harus meneliti lebih jauh lagi bagaimana pendapat ulama lainnya dan harus meneliti apakah amalan tersebut menyalahi atau keluar dari syariat yang telah digariskan Islam atau tidak?, bila tidak menyalahi syari’at Islam, apalagi sangat bermanfaat bagi kaum muslimin, boleh diamalkan! Apalagi amalan-amalan yang masih mempunyai dalil ,baik secara langsung maupun tidak langsung, maka tidak ada alasan orang untuk mengharamkan, mensesatkan atau membid’ahkan munkar amalan-amalan tersebut. Untuk menghramkan suatu amalan, harus mengemukakan dalil yang jelas dan shohih dari Rasulallah saw.

Fatwa -fatwa ulama madzhab Syafi’i adalah sebagai berikut :

 Imam Nawawi dalam kitab Al-Adzkar hal.140: “Dalam hal sampainya bacaan Al-Qur’an para ulama berbeda pendapat. Pendapat yang masyhur dari madzhab Syafi’i dan sekelompok ulama bahwa pahalanya tidak sampai. Namun Ahmad bin Hambal beserta sekelompok ulama dan juga sekelompok para sahabat Syafi’i berpendapat bahwa pahalanya sampai. Maka yang lebih baik adalah si pembaca menghaturkan doa: ‘Ya Allah sampaikanlah pahala ayat yang aku baca ini kepada si fulan…”.

 Dalam kitab Al-Majmu’ jilid 15/522: “Berkata Ibnu Nahwi dalam syarah Minhaj: ‘Dalam madzhab Syafi’i menurut qaul yang masyhur, pahala bacaan tidak sampai. Tetapi menurut qaul yang mukhtar sampai apabila dimohonkan kepada Allah agar disampaikan pahala bacaan tersebut. Dan seyogyannya memantapkan pendapat ini karena dia adalah doa. Maka jika boleh berdoa untuk mayit dengan sesuatu yang tidak dimiliki oleh si pendoa, maka kebolehan berdoa dengan sesuatu yang dimiliki oleh si penulis adalah lebih utama’”.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dalam madzhab Syafi’i terdapat dua qaul dalam hal pahala bacaan:

1.Qaul yang masyhur; pahala bacaan tidak sampai 2. Qaul yang mukhtar; pahala bacaan sampai.

 Untuk menanggapi qaul yang masyhur tersebut Syeikh Zakaria al-Anshari pengarang dalam kitab Fathul Wahhab jilid II/19 mengatakan: “Apa yang dikatakan sebagai qaul yang masyhur dalam madzhab Syafi’i itu dibawa atas satu pengertian: ‘Jika Al-Qur’an itu tidak dibaca dihadapan mayit dan tidak pula meniatkan pahala bacaan itu untuknya’”.

 Sedangkan syarat-syarat untuk sampainya pahala bacaan, Syeikh Sulaiman al-Jamal dalam kitabnya Hasiyatul Jamal jilid 4/67 mengatakan: “Berkata Syeikh Muhamad Ramli: ‘Sampai pahala bacaan jika terdapat salah satu dari tiga perkara yaitu: 1. Pembacaan dilakukan disamping kuburnya. 2. Berdoa untuk mayit sesudah membaca Al-Qur’an yakni memohon agar pahalanya disampaikan kepadanya.3.Meniatkan sampainya pahalanya bacaan itu kepadanya’ “.

 Hal yang senada diatas diungkapkan juga oleh Syeikh Ahmad bin Qasim al-Ubbadi dalam Hasiyah Tuhfatul Muhtaj jild 7/74: “Kesimpulannya bahwa jika seseorang meniatkan pahala bacaan kepada mayit atau dia mendoakan sampainya pahala bacaan itu kepada mayit sesudah membaca Al-Qur’an atau dia membaca disamping kuburnya, maka hasillah bagi mayit itu seumpama pahala bacaannya dan hasil pula pahala bagi orang yang membaca’ ”.

Namun demikian akan menjadi lebih baik dan lebih terjamin jika: 1. Pembacaan yang dilakukan dihadapan mayit di-iringi pula dengan meniatkan pahala bacaan itu kepada- nya. 2. Pembacaan yang dilakukan bukan dihadapan mayit agar disamping meniatkannya untuk si mayit juga disertai dengan doa penyampaian pahala sesudah selesai membaca. Langkah seperti ini dijadikan syarat oleh sebagian ulama seperti tersebut dalam kitab Tuhfah dan Syarah Minhaj (lihat I’anatut Thalibin jilid 3/24).

Celaan orang yang tidak setuju dengan hadiah pahala

Golongan pengingkar bacaan pahala sering kali mengecam dan mencela orang yang mengamalkannya. Yang mereka anggap senjata ampuh terhadap kelompok madzhab Syafi’i untuk penolakan hadiah pahala dengan ucapan mereka : “Imam Syafi’i sendiri toh mengatakan bahwa pahala bacaan Al-Qur’an tidak akan sampai kepada mayit, walaupun didoakan kepada Allah agar disampaikan….?

Menanggapi pertanyaan seperti ini, perlu dikemukakan bahwa Imam Syafi’i tidak pernah mengatakan amalan tersebut sebagai bid’ah atau melarang apalagi mencela orang-orang yang mengamalkannya. Beliau jelas mengetahui bahwa para tokoh ulama madzhab Hanafi, Maliki dan Imam Ahmad bin Hambal sendiri berpendapat bahwa pahala bacaan itu sampai kepada mayit. Kalau imam Syafi’i sampai mengecam apalagi menuduh sebagai amalan bid’ah, maka sama saja beliau menuduh para imam penganut tiga madzhab tersebut sebagai ahli bid’ah yang akan masuk neraka. Harus dibedakan antara ‘pendapat madzhab Syafi’i’ dan ‘pendapat Imam Syafi’i’. Tidak semua produk hukum yang ada dan berlaku dalam madzhab Syafi’i bersesuaian dengan pendapat Imam Syafi’i sendiri, karena terdapat kemungkinan dan kebolehan untuk mentahqiq kembali pendapat sang Imam ini.Tidak terdapat juga ucapan imam Syafi’i yang mengatakan, bahwa pendapat yang sudah beliau kemukakan harus diamalkan dan tidak boleh diganggu gugat oleh pengikut-pengikut beliau yang sesudahnya. Justru beliau sendiri mengatakan :“Jika kamu dapatkan didalam kitabku sesuatu yang menyalahi sunnah Rasulallah saw, maka ambillah sunnah Rasulallah saw itu dan tinggalkan ucapanku”.

Ucapan beliau ini walaupun merupakan pertanda ketawadhu’an namun dengan penuh pertimbangan dan semangat kehati-hatian telah dilaksanakan oleh para ulama pengikut beliau. Jadi tidak benar kalau dikatakan bahwa para ulama Syafi’iyah mengikuti saja secara membabi buta ucapan imam Syafi’i, karena kalau itu dilakukan berarti menentang perintah Imam Syafi'i sendiri.

Contoh-contoh fatwa imam Syafi’i yang ditahqiq (dikritisi) kembali

Ada beberapa masalah yang sudah diputuskan oleh Imam Syafi’i, tetapi dengan pertimbangan-pertimbangan yang teliti ditahqiq kembali oleh para ulama madzhab Syafi’i belakangan dan hasil pentahqigan mereka itulah yang berlaku dan diamalkan didalam madzhab Syafi’i. Contoh diantara masalah-masalah tersebut ialah:

– Hukum shalat idul fithri dan idul Adha ,menurut imam Syafi’i, wajib atas orang-orang yang berkewajiban menghadiri shalat Jum’at. Beliau mengatakan didalam Al-Mukhtasar: “Barangsiapa wajib atasnya menghadiri jum’at, maka wajib atasnya menghadiri idul fithri dan idul adha”.

Pendapat beliau ini oleh para sahabat Syafi’i dibawa kepada pengertian yang tidak seperti dhohirnya, karena menimbulkan hukum kewajiban (fardhu a’in) atas sholat dua hari raya tersebut dan ini menyalahi ijmak kaum muslimin. Oleh karen itulah beberapa tokoh madzhab Syafi’i seperti Abu Ishaq dan Al-Istakhri memberi komentar sebagai berikut: a.Menurut Abu Ishaq, ucapan imam Syafi’i itu adalah: “Barangsiapa dituntut shalat jum’at secara wajib, maka dia dituntut shalat id secara sunnah”.

b. Menurut Al-Istakhry, maknanya ialah: “Barangsiapa dituntut shalat jum’at secara fardhu, maka dia dituntut shalat id secara (fardhu) kifayah”. Dan ternyata yang terpakai dalam madzhab Syafi’i adalah bahwa hukum sholat dua hari raya itu bukan wajib melainkan sunnah muakkadah.

– Dua qaul dari Imam Syafi’i yakni qaul jadid dan qaul qadim. Tujuan beliau dengan qaul jadid ialah agar inilah yang dipakai dan diamalkan sedangkan qaul qadimnya ditnggalkan. Namun oleh para ulama madzhab Syafi’i dengan pertimbangan yang teliti, mengecualikan 20 masalah. Dalam 20 masalah ini yang dipakai adalah qaul qadim, sedangkan qaul jadidnya ditinggalkan.

– Masalah hadiah pahala bacaan Al-Qur’an. Imam Syafi’i ,kalau itu memang benar, mengatakan tidak sampainya pahala bacaan, namun dengan pertimbangan beberapa dalil para ulama Syafi’iyah , sebagian nama ulama telah kami kemukakan, pahala bacaan itu akan sampai dan fatwa inilah yang berlaku dan diamalkan dalam madzhab Syafi’i.

a. Didalam kitab Bujairimi Minhaj jilid 3/286 : “Perkataan: ‘Sesungguhnya tidak sampai pahala bacaan’ adalah dhoif, sedangkan perkataan : ‘Dan sebagian ashab Syafi’i mengatakan sampai’ adalah muktamad (terpegang)”.

b. Memahami bahwa pernyataan Imam Syafi’i itu mengandung pengertian jika Al-Qur’an tidak dibaca dihadapan mayit dan tidak pula meniatkan pahala bacaan itu untuknya.

Pengertian seperti ini tersebut dalam kitab Fathul Wahhab karangan Syeikh Zakaria al-Anshari jilid II/19. Walaupun sekiranya imam Syafi’i mengatakan tidak sampai pahalanya, tetapi beliau tetap mengakui adanya segi positif bacaan Al-Qur’an terhadap orang mati. Hal ini karena terbukti beliau menyukai diamalkannya hal tersebut.

– Imam Nawawi dalam kitabnya Al-Adzkar hal.137 menulis: “Berkata imam Syafi’i dan para ashab: ‘Disunnahkan seseorang membaca sebagian ayat Al-Qur’an untuk orang yang wafat. Para sahabat beliau berkata: Jika dia menamatkan seluruh Al-Qur’an niscaya akan baik sekali’”.

– Dalam kitab Tuhfah jilid VII/71, imam Ibnu Hajar Al-Haitami mengatakan: “Imam Syafi’i dan ashab menashkan bahwa sunnah membaca ayat-ayat Al-Qur’an yang mudah disamping mayit dan berdoa sesudahnya, karena doa disitu lebih bisa diharapkan pengabulannya dan karena mayit akan mendapatkan berkah bacaan Al-Qur’an seperti halnya orang yang hadir”.

– Dalam kitab Ar-Ruh hal. 13 Ibnul Qayyim menyebutkan: “Berkata Hasan bin Sholeh Az-Za’farani: ‘Aku pernah bertanya kepada imam Syafi’i tentang membaca Al-Qur’an disamping kubur. Beliau menjawab: Tidak mengapa…..’ “.

– Imam Nawawi dalam Syahrul Muhadzdzib mengatakan: ‘Disunnahkan bagi orang yang berziarah kekuburan membaca beberapa ayat Al-Qur’an dan berdo’a untuk penghuni kubur’. Imam Nawawi menyimpulkan bahwa membaca Al-Qur’an bagi arwah orang-orang yang telah wafat dilakukan juga oleh kaum Salaf (terdahulu). Pada akhirnya Imam Nawawi mengutip penegasan Taqiyyuddin Abul Abbas Ahmad bin Taimiyah (Ibnu Taimiyyah) sebagai berikut:

“Barangsiapa berkeyakinan bahwa seorang hanya dapat memperoleh pahala dari amal perbuatannya sendiri, ia menyimpang dari ijma’ para ulama dan di lihat dari berbagai sudut pandang keyakinan demikian itu tidak dapat dibenarkan”.

Demikianlah keterangan fatwa imam Syafi'i yang ditahqiq oleh para ulama madzhab Syafi'iyah

Amalan orang hidup yang bermanfaat bagi si mayit

– Mari kita telaah lagi amalan orang hidup yang bermanfaat bagi si mayit. Hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari Ibnu Abbas ra berkata:

وَعَنِ ابْنِ عَبَّـاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُـمَا قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ .صَ. يَقُوْلُ مَا مِنْ رَجُلٍ مُسْلِمٍ يَمُوْتُ

فَيَقُوْمُ عَلَى جَنَـازَتِهِ أرْبَعُوْنَ رَجُلاً لاَ يُشْرِكُوْنَ بِاللهِ شَيْئًا اِلاَّ شَفَّعَهُمُ اللهُ بِهِ (رواه مسلم)

Saya telah mendengar Rasulallah saw. bersabda: ‘Tiada seorang muslim wafat, maka berdiri menyembahyangkannya empat puluh (40) orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, melainkan dapat dipastikan Allah menerima syafa’at dan permintaan ampun mereka itu’. (HR. Muslim)

– Hadits dari Martsad bin Abdullah Alyazani berkata:

وَعَنْ مَرْثََـدِ ابْنِ عَبْدِاللهِ اليَزَنِيِّ (ر) قَالَ: كَانَ مَالِكُ بْنُ هُبَيْرَةَ اِذَا صَلَّى عَلَى الْجَنَازَةِ فَتَقَالَّ النَّاسَ

عَلَيْهَا جَزَّئَهُمْ ثَلاَثَةَ أجْزَاءٍ ثًمَّ قَالَ: قَالَ رَسُوْل اللهِ صَ مَنْ صَلَّى عَلَيْهِ ثَلاَثَةُ صُفُوْفٍ فَقَدْ أوْجَبَ (رواه ابو داود و الترميذي)

"Adalah Malik bin Hubairoh jika menyembahyangkan jenazah dan melihat orang-orangnya hanya sedikit, maka dibagi mereka tiga (3) baris, kemudian ia berkata: Rasulallah saw. bersabda: ‘Siapa yang disembahyangkan oleh tiga barisan, maka telah dapat dipastikan’ ”. (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi)

Maksud kata-kata dapat dipastikan dalam hadits itu ialah pasti diampunkan mayitnya dan Allah akan menerima syafa’at dan permohonan mereka.

– Hadits dari Abu Hurairah berkata: “Ada seorang tukang sapu masjid, pada beberapa hari tidak terlihat oleh Rasulallah saw. sehingga beliau bertanya tentang orang itu. Dijawab; Ia telah wafat. Nabi bersabda: Mengapakah kamu tidak memberitahu padaku? Tunjukkan padaku kuburannya. Maka orang-orang menunjukkan kepada Nabi saw. kuburan tukang sapu itu, dan disitu Nabi sholat mayat (jenazah). Kemudian setelah sholat bersabda: Sesungguhnya kubur-kubur ini tadi penuh kegelapan, dan Allah telah menerangi padanya dengan sholatku pada mereka”. (HR.Bukhori, Muslim).

Hadits-hadits diatas ini menunjukkan juga bahwa seorang yang telah wafat masih dapat tertolong oleh bantuan amalan orang yang masih hidup, dan yang demikian ini terserah pada Allah, karena rahmat Allah dan kurnia-Nya tidak terbatas. Juga hadits terakhir diatas menunjukkan dibolehkannya orang yang ketinggalan sholat jenazah untuk bersholat didepan kuburannya. Ini berlaku untuk semua muslimin karena dihadits itu tidak disebutkan sholat jenazah ditempat kuburan tersebut hanya khusus berlaku untuk Nabi saw. Beliau saw. adalah contoh bagi ummatnya, bila itu dilarang atau khusus untuk beliau saja, maka beliau saw. pasti akan memberitahunya!

Semuanya ini menunjukkan bahwa do’a itu manfaatnya sangat banyak baik untuk orang yang masih hidup maupun yang sudah wafat. Allah swt. sendiri telah menjanjikan [siapa yang berdo’a kepada-Nya pasti akan dikabulkannya (“Dan Tuhanmu berfirman; ‘Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kukabulkan bagimu’ ”. [Al- Mu’min :60] dan Firman-Nya: “Dan seandainya hamba-hambaKu bertanya padamu (Muhammad) mengenai Aku, maka sesungguhnya Aku ini Maha dekat. Aku akan mengabulkan permohonan dari orang yang berdo’a, jika ia berdo’a pada-Ku”. [Al-Baqoroh : 186] ).

Dia juga berfirman bahwa ada manusia yang berdo’a baik untuk dirinya maupun untuk lainnya sebagaimana firman-Nya: “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdo’a; Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami ”. (Al-Hasyr:10).

– Ibnu Hajr dalam kitabnya Khatimatul Fatwa mengatakan bahwa manfaat terbesar yang dapat diperoleh dengan do’a ialah orang yang berdo’a tidak akan dikecewakan sama sekali. Bila takdirnya bergantung pada do’a, maka ia akan melihat manfaat do’anya, namun bila takdirnya itu tidak bergantung pada do’a maka manfaat do’a adalah ganjaran pahala, karena do’a termasuk ibadah.

– Hadits dari Salman Farisi bahwa Rasulallah saw. bersabda; "Tidak dapat menolak gadha/takdir (Allah swt.) kecuali do’a’, dan tidak bisa menambah umur kecuali kebaikan !" (HR.At-Tirmidzi).

– Sedangkan hadits yang diriwayatkan oleh Bazzar dan Thabrani juga oleh Hakim yang menyatakan isnadnya sah dari Aisyah ra. bahwa Rasulallah saw. bersabda: “Tidak mempan (tidak bisa menolak) sikap berhati-hati terhadap takdir, sedang do’a itu akan memberi manfaat, baik terhadap hal-hal yang telah terjadi maupun yang belum terjadi. Dan sungguh, malapetaka itu turun, lalu disambut oleh do’a, maka bergulatlah keduanya sampai hari kiamat". Maksud hadits itu ialah Allah swt. bisa merubah takdir mala-petaka yang akan dikenakan pada hamba-Nya dikarenakan do'a hamba itu kepada-Nya.

Masih banyak lagi ayat Ilahi dan hadits Rasulallah saw. mengenai do’a ini, yang tidak kami kemukakan satu persatu disini. Kita dibolehkan berdo’a apa saja kepada Allah swt. yang penting dalam kebaikan, tetapi bacaan atau kalimat do’a yang terbaik ialah yang diajarkan oleh Rasulallah saw. termasuk disini ialah bacaan/kalimat do’a pada waktu sholat jenazah atau waktu ziarah kubur. Sudah tentu dalam sholat jenazah atau ziarah kubur kita dibolehkan membaca do’a selain yang diajarkan oleh Rasulallah saw. yang terpenting semua ini terfokus (tertuju) untuk mohon pengampunan bagi si mayat. (info: berdo’a pada waktu sholat banyak ahli fiqih mengatakan harus berbahasa Arab, bila tidak, bisa membatalkan sholatnya).

Ini semua sunnah Rasulallah saw. serta menunjukkan bahwa si mayit itu masih bisa menerima syafa’at dari amalan orang lain yang masih hidup. Dengan demikian isi dan inti do’a dalam sholat jenazah dan ziarah kubur ialah mohon ampunan untuk si mayit, ampunan ini adalah salah satu syafa’at dan manfaat yang besar serta selalu diharapkan oleh setiap muslimin. Begitu juga halnya dalam majlis tahlil/yasinan (baca keterangan selanjutnya) tujuan utama setelah membaca ayat-ayat Al-Qur’an, tasbih, tahmid, sholawat pada Nabi saw. dan sebagainya adalah berdo’a pada Allah swt. khusus untuk si mayyit dan untuk semua muslimin. Rasulallah saw. menganjurkan kita untuk ziarah kubur dan mengajarkan kalimat-kalimat salam dan do’a untuk ahli kubur tersebut. Disini tidak ada bedanya orang yang baru wafat atau sudah lama wafat semuanya adalah mayit.

Ingat sekali lagi, jangan melihat cara atau bagaimana orang melakukan suatu amalan, tapi lihatlah apakah amalan tersebut melanggar yang telah digariskan oleh syari’at Islam atau tidak.

Pahalanya membaca Al-Qur’an

Setelah keterangan singkat tadi mengenai hadiah pahala bacaan untuk si mayyit, marilah kita meneliti dalil-dalil dan wejangan para pakar islam mengenai pahala orang yang membaca ayat Al-Qur’an, juga anjuran-anjuran untuk membaca surat Yaasin, surat Al-Ikhlas dan lainnya pada orang-orang yang akan atau sudah wafat. Dengan demikian buat pembaca lebih jelas lagi bahwa bacaan yang dibaca (didalam majlis-majlis dzikir termasuk tahlil/yasinan dan lainnya) pasti akan mendapatkan pahala dari Allah swt., jadi bukan sebaliknya akan mendapat dosa dan sebagainya sebagaimana yang dikatakan oleh golongan pengingkar .

– Ibn Mas’ud ra berkata: Rasulallah saw. bersabda:

عَنِ ابْنِ مَسْعُود(ر) ِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ الله.صَ. مَنْ قَرَأ حَرْفاً مِنْ كِتَابِ الله فَلَهُ حَسَن,

وَالحَسَنَة بِعَشْرِ أمْثَالِهَا, لآ أقوْلُ الم حَرْفٌ, بَلْ ألِف حَرْفٌ, وَلاَْم حَرْفٌ وَمِيْم حَرْفٌ. (رواه الترميذي)

Artinya: “Siapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah, maka mendapat hasanat/ kebaikan dan tiap hasanat mempunyai pahala berlipat sepuluh kali. Saya tidak berkata: Alif lam mim itu satu huruf, tetapi Alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf”.(HR. Attirmidzy).

Lihat hadits ini siapa yang membaca al-Qur’an akan dilipatkan pahala setiap hurufnya menjadi sepuluh kali. Pahala apa yang akan diberikan Allah swt. setiap hurufnya itu tidak ada keterangan yang jelas. Sekarang kita bisa renungkan sendiri berapa pahala yang akan kita peroleh hanya dengan bacaan surat Fatihah saja? Ingat Rahmat dan Kurnia Allah swt. tidak ada batasnya. Jangan kita sendiri yang membatasinya !

– Dalil-dalil lainnya tentang pembacaan Al-Qur’an yang bermanfaat bagi orang yang akan atau sudah wafat berikut ini:
Iqrauu yaasin ‘alaa mautaakum
Artinya: ‘Bacalah Yaa Siin bagi orang-orang yang (akan atau telah) meninggal diantara kalian (muslimin)’.

Riwayat serupa oleh Abu Hurairah ra juga telah dicatat oleh Abu Ya’la dalam Musnad beliau dan Hafidz ibn Katsir telah mengklasifikasikan rantai periwayatnya (sanadnya) sebagai Hasan/baik (lihat Tafsiir Ibn Katsiir Juz 3 hal. 570).

– Al-Baihaqi dalam Sya’bul Iman menjelaskan sebuah hadits riwayat Mi’qal bin Yasar bahwa Rasulallah saw. bersabda :
مَنْ قَرَأ يَس إبْتِغَاء وَجْه اللهِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ , فَاقْرَؤُاهَاعِنْدَ مَوْتَاكُمْ.
Artinya: “Barangsiapa membaca Yaa Sin semata-semata demi keridhaan Allah, ia memperoleh ampunan atas dosa-dosanya yang telah lalu. Karena itu hendaklah kalian membacakan Yaa Sin bagi orang yang (akan atau telah) wafat diantara kalian (muslimin)”. (Hadits ini disebutkan juga dalam Al-Jami’us Shaghier dan Misykatul Mashabih).

– Ma'aqal ibn Yassaar ra meriwayatkan bahwa Rasulallah saw. bersabda;

"Yasin adalah kalbu (hati) dari Al-Quran. Tak seorang pun yang membacanya dengan niat menginginkan Akhirat melainkan Allah akan mengampuninya. Bacalah atas orang-orang yang (akan dan telah) wafat diantaramu." (Sunan Abu Dawud). Imam Hakim mengklasifikasikan hadits ini sebagai Shohih/ Autentik, lihat Mustadrak al-Haakim juz 1, halaman 565; lihat juga at-Targhiib juz 2 halaman 376. Hadits yang serupa juga diriwayatkan oleh Hafidz As–Salafi (Mukhtasar Al-Qurtubi hal. 26).

– Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan dalam Musnad-nya dengan sanad dari Safwaan bahwa ia berkata: “Para ulama biasa berkata bahwa jika Yaasin dibaca oleh orang-orang yang akan wafat, Allah akan memudahkan maut itu baginya.” (Lihat tafsir Ibnu Katsir jild 3 halaman 571).

– Dari Jund bin Abdullah ra. meriwayatkan bahwa Nabi saw bersabda: “Barang siapa membaca Surat Yaasin pada malam hari dengan niat mencari ridha Allah dosa-dosanya akan diampuni” (Imam Malik bin Anas, dalam kitabnya Al Muwattha’). Ibnu Hibban menshohihkannya (lihat shohih Ibn Hibban jilid 6 halaman 312, juga lihat At Targhiib jilid 2 hal. 377).

Hadits ini menyebutkan pahala tertentu bacaan surat Yaasin, Allah swt. akan mengampuni dosa-dosa si pembacanya. Manfaat pengampunan ini yang selalu diharapkan oleh setiap Muslimin !!

– Riwayat serupa dari Abu Hurairah ra juga dicatat oleh Abu Ya’la dalam Musnad-nya dan Ibnu Katsir telah mengklasifikasikan rantai perawinya sebagai Hasan/baik. (Lihat tafsir Ibnu Katsir jilid 3 hal.570).

– Syaikh Muhammad Al-‘Arabi At-Tibani, seorang ulama Masjidil Haram dalam risalahnya yang berjudul Is’aful Muslimin wal Muslimat bi Jawazil Qira’ah wa Wushulu Tsawabiha Lil Amwat mengatakan membaca Al-Qur’an itu dapat sampai kepada arwah orang yang telah meninggal.

– Ma'aqal ibn Yassaar ra meriwayatkan bahwa Rasulallah saw. bersabda;

مَنْ مَرَّ عَلَى المَقَبِرِ وَقَرَأ قُلْ هُوَا الله اَحَدٌ إحْدَ عَشَرَةَ مَرَّةٌ, ثُمَّ وَهَـبَ أجْرُهَا لِلأَمْوَاتِ , أعْطِي مِنَ الأجْرِ بِعددِ الأمْوَات
Artinya: "Barangsiapa lewat melalui kuburan, kemudian ia membaca ‘Qul Huwallahu Ahad’ sebelas kali dengan niat menghadiahkan pahalanya pada para penghuni kubur, ia sendiri akan memperoleh pahala sebanyak orang yang mati disitu (atau mendapat pahala yang diperoleh semua penghuni kubur)”.

Berdasarkan riwayat surat Yaasin yang cukup banyak maka ulama-ulama pakar atau orang-orang lainnya yang memegang hadits-hadits ini, meng- amalkannya baik secara individu atau berkelompok sebagai amalan tambahan.

Mari kita rujuk lagi hadits-hadits mengenai pahala-pahala dan keistemewaan tertentu surat Al-Qur’an selain surat Yaasin. Walaupun kita setiap hari membaca berulang-ulang hanya satu surat saja dari Al-Qur’an tersebut akan tetap dapat pahala bagi yang membacanya karena termasuk ayat Al-Qur’an dan tidak ada satu hadits atau ayat ilahi yang melarang orang membaca hanya satu ayat dari Al-Qur’an. Dan tidak ada satu orang pun dari kaum muslimin yang mengamalkan ini berkeyakinan atau mengatakan bahwa Al-Qur’an itu hanya terdiri dari satu ayat yang dibaca itu saja serta mengharuskan/mewajibkan orang membaca hanya ayat itu saja. Itu hanya angan-angan dan dongengan golongan pengingkar !

Golongan pengingkar ada yang mengatakan bahwa Ibnul Qayyim berkata: "Barangsiapa membaca surat ini akan diberikan pahala begini dan begitu semua hadits tentang itu adalah Palsu ! Beliau dengan alasan bahwa orang-orang yang memalsukan hadits-hadits itu telah mengakuinya sendiri bahwa tujuan mereka membuat hadits palsu tersebut adalah agar manusia sibuk dengan membaca surat-surat tertentu dari Al-Qur’an serta menjauhkan mereka membaca isi Al-Quran yang lain "!!

Umpama saja Ibnul Qayyim benar berkata demikian, ini juga bukan suatu dalil/hujjah untuk melarang membaca ayat-ayat tertentu dari ayat Al-Qur’an, karena tidak sedikit hadits yang menyebutkan keistemewaan tertentu dan pahala tertentu pada ayat-ayat Al-Quran, dengan demikian pendapat Ibnul-Qayyim terbantah dengan hadits-hadits tentang bacaan surat Yasin diatas dan surat-surat lain berikut ini:

– Hadits dari Abu Sa’id ra bahwa Nabi saw bersabda: “Apakah kalian sanggup membaca sepertiga (1/3) Qur’an dalam satu malam?’ Rupanya hal itu memang terasa berat bagi mereka, maka jawab mereka: ‘Siapa pula yang akan sanggup melakukan itu diantara kami, ya Rasulallah!’. Maka sabda Nabi saw ’Allaahul wahidus shamad ’ maksudnya surat Al Ikhlas adalah sepertiga dari Al- Qur’an”. (HR.Bukhori, Muslim dan An-Nasa’i). Ada riwayat yang serupa dari Abu Hurairah ra yang diriwayatkan oleh Imam Muslim.

Lihat hadits diatas ini termasuk juga sebagai pahala tertentu, siapa baca sekali surat Al-Ikhlas sudah memadai seperti baca sepertiga ayat dari Al- Qur’an. Disini tidak berarti orang mempunyai firasat bahwa Al-Qur’an hanya terdiri dari surat Al-Ikhlas saja dan kita hanya diharuskan membaca surat tersebut serta menjauhi ayat Al-Qur’an lain- nya, seperti isu-isu belaka golongan pengingkar ini !

– Hadits dari Abu Sa’id Al Khudri ra bahwa Nabi saw bersabda: 'Adanya Rasulallah saw. berlindung dari gangguan jin dan mata manusia dengan beberapa do’a, tetapi setelah diturunkan kepadanya Almu’awwidatain ( Surat Al-Falaq dan An-Naas), beliau saw. membaca keduanya itu dan meninggalkan segala do’a-do’a lainnya'. (HR At Tirmidzi).

Hadits diatas ini menunjukkan dua surat (Al-Falaq dan An-Naas) mempunyai keistemewaan tertentu juga, bisa menghalangi dan menolak gangguan jin dan mata manusia. Juga mendapat pahala yang membacanya. Disini tidak berarti orang mempunyai firasat bahwa Al-Qur’an hanya terdiri dari surat Al-Falaq dan An-Naas saja dan kita hanya diharuskan membaca dua surat tersebut serta menjauhi ayat Al-Qur’an lainnya !

– Hadits dari Abu Mas’ud Al Badry ra berkata, bersabda Nabi saw:: “Siapa yang membaca dua ayat dari akhir surat Al-Baqoroh pada waktu malam telah “. (HR.Bukhori dan Muslim).

Kata-kata telah mencukupinya dalam hadits itu berarti ia telah terjamin keselamatannya dari gangguan syaithon pada malam itu. Ini juga termasuk keistemewaan tertentu dari dua ayat terakhir dari surat Al Baqoroh (yaitu dimulai dari Aamanar Rosuulu bimaa unzila ilaihi ayat 285...sampai akhir ayat al Baqoroh). Disini tidak berarti orang mempunyai firasat bahwa Al-Qur’an hanya terdiri dari surat Al-Baqarah dan kita hanya diharuskan membaca surat tersebut serta menjauhi ayat Al-Qur’an lainnya!

– Hadits dari Abu Hurairah ra, Rasulallah saw bersabda: ‘Didalam Qur’an ada surat berisi tiga puluh ayat dapat membela seseorang hingga diampunkan baginya yaitu Tabarokalladzi Biyadihil Mulku (surat Al-Mulk)’. (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi).

Hadits ini menunjukkan keistemewaan dan pahala tertentu juga bahwa siapa yang membacanya akan dapat membelanya dan mengampunkan dosanya! Pahala pengampunan ini sangat diharapkan oleh semua kaum muslimin. Disini tidak berarti orang mempunyai firasat bahwa Al-Qur’an hanya terdiri dari surat Al-Mulk saja dan kita hanya diharuskan membaca surat tersebut serta menjauhi ayat Al-Qur’an lainnya !

– Hadits dari Abu Hurairah ra Nabi saw bersabda: ‘Jangan kamu menjadikan rumahmu bagaikan kubur (hanya untuk tidur belaka), sesungguhnya setan lari dari rumah yang dibacakan padanya surat Al-Baqarah’. (HR.Muslim).

Hadits ini juga mempunyai keistemewaan tertentu Al-Baqarah bisa mengusir setan dari rumah kita. Disini tidak berarti orang mempunyai firasat bahwa Al-Qur’an hanya terdiri dari surat Al-Baqoroh saja dan kita hanya diharuskan membaca surat tersebut serta menjauhi ayat Al-Qur’an lainnya !

– Hadits dari Abu Darda ra, Sabda Rasulallah saw.: ‘Siapa yang hafal sepuluh ayat dari permulaan surat Al-Kahfi, akan terpelihara dari godaan fitnah Dajjal’. (HR.Muslim). Dalam lain riwayat: ‘Sepuluh ayat dari akhir surat Al- Kahfi’. 

Hadits ini menunjukkan keistemewaan tertentu yaitu siapa yang dapat menghafal dan membacanya dari ayat tersebut, terhindar dari fitnahan Dajjal. Disini tidak berarti orang mempunyai firasat bahwa Al-Qur’an hanya terdiri dari sepuluh ayat dari surat Al-Kahfi saja dan kita hanya diharuskan membaca surat tersebut serta menjauhi ayat Al-Qur’an lainnya!

Dan masih banyak lagi mengenai keistemewaan dan pahala tertentu mengenai Ayat Kursi, ayat Al-Fatihah (Ummul Kitab/ibunya Qur’an), mengenai keutamaan mengucapkan Laa ilaaha illallah, membaca Tasbih, Takbir dan Sholawat atas Nabi saw. dan sebagainya yang tidak dikemukakan satu persatu disini. Juga pahala-pahala tertentu amalan-amalan puasa, sholat dan sebagainya.

Apakah semua hadits-hadits keistemewaan dan pahala tertentu tersebut diatas yang diriwayatkan oleh perawi-perawi terkenal adalah hadits palsu ? Apakah dengan adanya hadits-hadits tersebut, orang mempunyai firasat hanya harus membaca ayat-ayat tertentu itu dan meniadakan ayat Al-Qur’an lainnya ? Sudah Tentu Tidak !

Pandangan yang demikian itu menunjukkan kedangkalan ilmu serta kefanatikan golongan pengingkar ini terhadap pahamnya sendiri sehingga semua hadits yang tidak sepaham dengan mereka dianggap tidak ada, palsu, lemah dan lain sebagainya ! Kami berlindung pada Allah swt.

[edit]

Pasang INTERNET FASNET PLUS TV KABEL FIRSTMEDIA
Pasang FIRSTMEDIA internet speed hingga 100mbps + CHannel TV HD hingga 50HD hub 087777313417 only SMS