Peringatan Haul

By:
Keterangan singkat mengenai Peringatan Haul

Sebenarnya peringatan Haul (peringatan tahunan) ini tidak perlu kami kutip disini, karena keterangan ziarah kubur, kehidupan ruh-ruh, tahlil/yasinan dan semua yang tercantum dibab ziarah kubur ini, telah mencakup juga keabsahan dari peringatan Haul ini. Tetapi selama masih ada orang yang salah paham mengenai Haul ini, tidak ada salahnya kalau kami uraikan lagi berikut ini.

Friman Allah swt: ‘Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikir lah lebih banyak dari itu’ (QS.Al-Baqarah: 200).


Firman Allah swt ini, berkaitan dengan orang-orang Arab pada zaman Jahiliyyah, yang setelah menunaikan haji mereka hanya bermegah-megahan tentang kebesaran nenek moyangnya saja. Kemudian turun perintah Allah swt , agar mereka –sebagaimana mereka menyebut-yebut nenek moyangnya– banyak berdzikir pada Allah swt. Dalam ayat ini, tidak ada isyarat yang melarang adat mereka setiap tahun usai haji menceriterakan riwayat hidup dan membangga-banggakan nenek moyangnya, hanya Allah swt menghendaki agar orang Arab Jahiliyah disamping membangga-banggakan nenek moyangnya, juga banyak berdzikir pada Allah swt!

Sebagian ulama mengatakan, ayat ini bisa dijadikan sebagai dalil dibolehkannya orang setiap tahun memperingati para wali atau sholihin yang telah wafat (Haul). Karena dalam peringatan ini, para hadirin berdzikir kepada Allah swt dan para ulama akan mengumandangkan pada hadirin, riwayat hidup para wali/sholihin yang diperingati tersebut. Kemudian diakhiri dengan berdoa kepada Allah swt, agar amalan-amalan para wali/sholihin ini diterima oleh Allah swt, dan para hadirin serta semua muslimin diberi taufiq oleh Allah, sehingga bisa mencontoh amal perbuatan para sholihin yang terpuji, dimasa hidupnya mereka.

Diriwayatkan juga bahwa Rasulallah saw, setiap tahun selalu berziarah ke makam para syuhada dibukit Uhud. Sesampainya di Uhud, beliau mengucapkan salam, yang kalimatnya termaktub dalam al-qur’an surat Ar-Ra’d ayat 24, yang artinya: ‘Keselamatan atasmu berkat kesabaran mu, maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu”.

Para sahabat pun melakukan apa yang telah dilakukan Rasulullah saw, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Al-Baihaqi dari Al-Wakidi:

“bahwa Nabi saw senantiasa berziarah kemakam para syuhada dibukit Uhud setiap tahun. Dan sesampainya disana beliau mengucapkan salam dengan mengeraskan suaranya, “Salamun alaikum bima shabartum fani’ma uqbad daar” –[QS Ar-Ra’d: 24]– (artinya, Keselamatan atasmu berkat kesabaranmu, maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu).

Lanjutan riwayat: Abu Bakar juga melakukan hal itu setiap tahun, kemudian Umar, lalu Utsman. Fatimah juga pernah berziarah ke bukit Uhud dan berdoa. Saad bin Abi Waqqash mengucapkan salam kepada para syuhada tersebut, kemudian ia menghadap kepada para sahabatnya lalu berkata, ‘Mengapa kalian tidak mengucapkan salam kepada orang-orang yang akan menjawab salam kalian?’

Demikianlah dalam kitab syarah Al-Ihya juz 10 pada pasal tentang ziarah kubur. Lalu dalam kitab Najhul Balaghah dan kitab Manaqib As-Sayyidis Syuhada Hamzah ra oleh Sayid Ja’far Al-Barzanji, dijelaskan bahwa hadits itu menjadi sandaran hukum bagi orang-orang Madinah yang melakukan Ziarah Rajabiyah (ziarah tahunan setiap bulan Rajab) kemakam Sayidina Hamzah, yang ditradisikan oleh keluarga Syeikh Junaid al-Masra’i, yang pernah bermimpi dengan Sayidina Hamzah, yang menyuruhnya melakukan ziarah tersebut.

Kami telah mengemukakan, bahwa kaum mukminin apalagi kaum sholihin yang telah wafat bisa mendengar, berdoa pada Allah swt, baik untuk para kerabatnya maupun para hadirin yang berziarah dimakam-makam mereka. Ruh-ruh mereka bisa hadir ditempat makamnya atau tempat lainnya yang mereka kehendaki setiap waktu. Dengan demikian peringatan Haul ini banyak manfaat baik bagi orang yang masih hidup maupun yang sudah wafat. Bagi yang sudah wafat mendapat doa dari jama’ah, fadhilah atau hadiah pahala pembacaan al-qur’an, yang ditujukan kepadanya. Sedangkan berkumpulnya jama’ah (para hadirin) yang membaca doa ini sudah tentu akan mendapat pahala, rahmat dan berkah dari Allah swt, karena ziarah kubur pada orang muslim yang biasa saja, sudah termasuk sunnah Rasulallah saw apalagi menziarahi para ulama, para sholihin dan para wali yakni, orang-orang yang dibanggakan, dipuji oleh Allah swt dan Rasul-Nya. 

Dalam Jala’ Adh-Dholaam ‘Ala ‘Aqidatil Awam disebutkan:

“Ketahuilah, bahwa sangat dianjurkan bagi setiap muslim, yang menginginkan anugerah Allah dan kebaikan-kebaikannya untuk selalu menghadang barokah pemberian, makbulnya doa dan turunnya rahmat dihadapan para wali (waliyullah), pada majlis-majlis perkumpulan mereka, baik ketika masih hidup atau setelah wafatnya.Begitu juga ketika berada dimakamnya atau ketika berziarah menyebut keutamaannya atau membaca manaqib-manaqibnya”.
Jika haul –yakni berkumpulnya orang banyak untuk ziarah dimuka kuburan para wali– sebagai bid’ah, itu sungguh merupakan bid’ah mahmudah (bid’ah yang terpuji) atau bid’ah hasanah (bid’ah yang baik) karena sejalan dengan kaidah hukum syariat Islam.

Tidak ada alasan untuk menuduh penyelenggaraan Haul itu bid’ah dholalah (bid’ah sesat) atau haram, selagi tuduhan itu tidak didasarkan pada nash-nash Kitabullah dan Sunnah Rasulallah saw, yang dengan tegas dan jelas mengharamkan Haul tersebut. Mengharamkan sesuatu yang oleh syara’ tidak diharamkan, apalagi jika tidak disertai dalil yang tegas dari Kitabullah dan Sunnah Rasulallah, itu bukan lain hanyalah omong kosong dan semata-mata mengada-adakan kedustaan terhadap Allah dan Rasul-Nya, dan sama sekali bukan dari ajaran agama! Ingat firman Allah swt dalam surat Asy-Syuraa:21: “....mereka yang mensyariatkan sebagian dari agama sesuatu yang tidak di-izinkan Allah”, dan dalam surat an-Nahl : 116; Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-disebut oleh lidahmu secara dusta ‘Ini halal dan ini haram untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah...”.

Jadi sesuatu yang menurut asalnya (pada dasarnya) halal, tidak boleh di haramkan kecuali atas dasar dalil yang benar dan jelas, serta sejalan dengan penegasan Allah dan Rasul-Nya tentang pengharamannya. Wallahua'lam.

[edit]

Pasang INTERNET FASNET PLUS TV KABEL FIRSTMEDIA
Pasang FIRSTMEDIA internet speed hingga 100mbps + CHannel TV HD hingga 50HD hub 087777313417 only SMS