Mengutamakan akal sehat saat-saat diperbedaan antara kita..

By:
Perbedaan adalah Rahmat ALLAH swt, saya akan mendefinisikan menggunakan rasio akal saya untuk memahamai perbedaan tersebut, dalam sudut pandang sangat produktif yang tidak menyalahkan takdir manusia diciptakan dengan akal yang sehat, akal tersebut memberikan banyak masukan dalam menelaah semua masukan-masukan baik dari membaca tekstual, melihat alam, serta melihat seluruh yang ada dihadapan kita sekarang ini.
Penulis tidak untuk berambisi (hendak membenarkan) tetapai menanyakan "bagaimana akal itu dapat hidup sehingga membentuk pribadi yang lebih beradab", beradab dalam berpola sikap dan berpola fikir. Semua akal itu tidaklah mati atau terkukung dengan suatu ajaran yang bersifat dari luar diri , tetapi memberikan kebebasan saat ajaran tersebut sebagai kesadaran tentang penggunaan akal sehat.
إِنَّ فىِ خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَ الْأَرْضِ وَ اخْتِلَافِ الَّيْلِ وَ النَّهَارِ وَ الْفُلْكِ الَّتىِ تجَْرِى فىِ الْبَحْرِ بِمَا يَنفَعُ النَّاسَ وَ مَا أَنزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِن مَّاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتهَِا وَ بَثَّ فِيهَا مِن كُلّ‏ِ دَابَّةٍ وَ تَصْرِيفِ الرِّيَحِ وَ السَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَ الْأَرْضِ لاََيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُون

Sesungguhnya pada kejadian langit dan bumi; dan pertukaran malam dan siang; dan (pada) kapal-kapal yang belayar di laut dengan membawa benda-benda yang bermanfaat kepada manusia; demikian juga (pada) air hujan yang Allah turunkan dari langit lalu Allah hidupkan dengannya tumbuh-tumbuhan di bumi sesudah matinya, serta Ia biakkan padanya dari berbagai-bagai jenis binatang; demikian juga (pada) peredaran angin dan awan yang tunduk (kepada kuasa Allah) terapung-apung di antara langit dengan bumi; sesungguhnya ada tanda-tanda (yang membuktikan keesaan Allah, kekuasaanNya, kebijaksanaanNya, dan keluasan rahmatNya) bagi kaum yang menggunakan akal fikiran (liqaumiy ya’qiluun) Al Baqarah: 164

Saya tidak mengajak dalam mengubah sifat genitas akal (otak kanan dan kiri) karena memang sudah masing-masing personal dianugrahi akal yang memiliki kapasitas yang ditentukan, hanya saja kapasitas isi dari otak kita bisa disimulasi (didorong) menjadi kebiasaan berlaku berfikir (pola fikir), sebagaimana saat kita masih duduk bangku masa kanak-kanak kita yang diajarkan mengenali lingkungan kita, mengindentifikasikan keadaan yang baik dan kurang baik.

Jika akal ini tidak terbiasa dengan pola fikir yang yang efisien dan mencakup banyaknya wawasan maka yang akan terjadi suatu rasa (fluktuasi rasa), jika dalam pandangan agama Islam adalah mengalamai futuristik (naik dan lemahnya iman), konsep inilah seharusnya kita mempelajari dari awal, dimulai dengan pemahaman "bacalah" lalu dihafalkan dalam ingatan , sehingga dalam sirkulasi waktu akan menjadi alat ukur untuk mengedepankan kebaikan (Rahmat) serta kebenaran (HAK).
أَ فَلَمْ يَسِيرُواْ فىِ الْأَرْضِ فَتَكُونَ لهَُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بهَِا أَوْ ءَاذَانٌ يَسْمَعُونَ بهَِا فَإِنهََّا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَ لَاكِن تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتىِ فىِ الصُّدُور
Oleh itu, bukankah ada baiknya mereka mengembara di muka bumi supaya - dengan melihat kesan-kesan yang tersebut - mereka menjadi orang-orang yang ada hati yang dengannya mereka dapat memahami (ya’qiluuna bihaa), atau ada telinga yang dengannya mereka dapat mendengar? (Tetapi kalaulah mereka mengembara pun tidak juga berguna) kerana keadaan yang sebenarnya bukanlah mata kepala yang buta, tetapi yang buta itu ialah mata hati yang ada di dalam dada.
Informasi saat ini menjadi bentuk kekayaan intelektual untuk menganalisa sehingga kita bisa memberikan keputusan yang terbaik saat menghadapi problem dalam kehidupan sementara di dunia ini, yang kita memiliki keyakinan karena hasil menulusuri informasi-informasi yang paling aktual (kekinian), bisa saja kita akan menemukan satu kesimpulan yang penuh tetapi tidaklah mendekati pada kesempurnaan karena masih dihiasi dengan dinamika problem yang terus berkembang.

Dinamisme perkembangan problem inilah yang mamaksa secara tidak langsung untuk menyadarkan akal untuk menyelesaikan sesuai dengan proses yang dijalani, tidaklah kita mengatakan ini adalah instan untuk melewati ujian-ujian Tuhan pada manusia, dan secara subyektif saya mengatakan sebenarnya dalam pandangan agama setiap ujian tersebut sama saja dengan ujian manusia generasi pertama, ini dihubungkan dengan suatu takdir mutlak Tuhan menciptakan manusia secara substansial penghambaan padaNya.

Tidak ada pengubahan karena Ke MahaBesaran Tuhan mencakup penetapan yang mutlak tidak ada revisi karena sifat yang Maha Benar, tidak bersifat dalam kesalahan (Maha suci ALLAH apa-apa yang kita definisikan tentang keTuhanan)

Hai manusia! Kami ciptakan kamu dari satu pasang laki-laki dan perempuan, dan Kami jadikan kamu beberapa bangsa dan suku bangsa, supaya kamu saling mengenal [bukan supaya saling membenci, bermusuhan]. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu dalam pandangan Allah ialah yang paling bertakwa. Allah Mahatahu, Maha Mengenal (Q.s. Al-Hujurat [49]: 13).





[edit]

Pasang INTERNET FASNET PLUS TV KABEL FIRSTMEDIA
Pasang FIRSTMEDIA internet speed hingga 100mbps + CHannel TV HD hingga 50HD hub 087777313417 only SMS