Tahlil/Yasinan

By:
Setelah kita membaca uraian mengenai amalan orang hidup yang bisa bermanfaat bagi si mayit, hadiah pahala pembacaan Al-Qur’an dikuburan, ruh-ruh kaum muslimin, talqin dan lain sebagainya, insya Allah jelas bagi pembaca bahwa amalan-amalan yang diamalkan saudara-saudara kita ,selain sekte Wahabi dan pengikutnya, itu mempunyai dalil dan akar yang kuat. Begitu juga dengan majlis dzikir tahlil/yasinan yang sering kita lihat, dengar atau kita alami sendiri terutama di Indonesia. Didalam majlis ini dikumandangkan pembacaan bersama ayat Al-Qur’an, berdo’a yang ditujukan untuk kita, kaum muslimin umumnya dan khususnya untuk saudara-saudara kita muslimin yang baru wafat atau yang telah lama wafat. Tahlilan boleh diamalkan baik secara bersama maupun perorangan. Hal yang sama ini dilakukan juga baik oleh ulama maupun orang awam di beberapa kawasan dunia umpamanya: Malaysia, Singapore, Yaman dan lainnya.


Memang berkumpul untuk membaca tahlil ini tidak pernah diamalkan pada zamannya Rasulallah saw.. Itu memang bid’ah (rekayasa), tetapi bid’ah hasanah (rekayasa baik), karena sejalan dengan dalil-dalil hukum syara’ dan sejalan pula dengan kaidah-kaidah umum agama. Sifat rekayasa terletak pada bentuk berkumpulnya jama’ah (secara massal), bukan terletak pada bacaan yang dibaca pada majlis tersebut. Karena bacaan yang dibaca di sana banyak diriwayatkan dalam hadits Rasulallah saw. Tidak lain semuanya ini sebagai ijtihad para ulama-ulama pakar untuk mengumpulkan orang dan mengamalkan hal tersebut.

Bentuk atau cara bacaan Tahlil/Yasinan yang dibaca di Indonesia, Malaysia, Singapora, Yaman Selatan ialah: Pertama-tama berdo’a dengan di-iringi niat untuk orang muslimin yang telah lama wafat dan baru wafat tersebut, kemudian disambung dengan bacaan surat Al-Fatihah, surat Yaasin, ayat Kursi (Al-Baqoroh :255) dan beberapa ayat lainnya dari Al-Qur’an, tahlil (Pengucapan Lailahaillallah), tasbih (Pengucapan subhanallah), sholawat Nabi saw. dan sebagainya. Setelah itu ditutup dengan do’a kepada Allah swt. agar pahala bacaan yang telah dibaca itu dihadiahkan untuk orang orang yang telah wafat terutama dikhususkan untuk orang yang baru wafat itu, yang oleh karenanya berkumpulnya orang-orang ini untuk dia. Juga berdo'a pada Allah swt. agar dosa-dosa orang muslimin baik yang masih hidup maupun telah wafat di- ampuni oleh-Nya dan lain sebagainya. Nah, dalam hal ini apanya yang salah...? Allah swt. Maha Pengampun dan Dia telah berfirman akan mengabulkan do'a seseorang yang berdo'a pada-Nya !

Sedangkan mengenai makanan-makanan yang dihidangkan oleh sipembuat hajat itu bukan masalah pokok tahlilan ini, tidak lain hanya untuk menggembirakan dan menyemarakkan para hadirin sebagai amalan sedekah dan dan tidak ada paksaan! Bila ada orang yang sampai hutang-hutang untuk mengeluarkan jamuan yang mewah, ini bukan anjuran dari agama untuk berbuat demikian, setiap orang boleh mengamalkan menurut kemampuannya. Dengan adanya ini nanti dibuat alasan oleh golongan pengingkar untuk mengharamkan tahlil dan makan disitu. Pengharaman dengan alasan seperti itu sebenarnya bukan alasan yang tepat karena tahlil tidak harus diharamkan atau ditutup karena penjamuan tersebut. Sekali lagi penjamuan tamu itu bukan suatu larangan, kewajiban dan paksaan, setiap orang boleh mengamalkan menurut kemampuannya, tidak ada hadits yang mengharamkan atau melarang keluarga mayyit untuk menjamu tamu yang ta’ziah atau yang berkumpul untuk membaca tahlil untuk si mayyit..

– Imam Syafi’i dalam kitabnya Al Umm mengatakan bahwa disunnahkan agar orang membuat makanan untuk keluarga mayyit sehingga dapat menyenangkan mereka, yang mana hal ini telah diriwayatkan dalam hadits bahwa Rasulallah saw. tatkala datang berita wafatnya Ja’far bersabda; ‘Buatkanlah makanan untuk keluarga Ja’far, karena telah datang kepada mereka urusan yang menyibukkan’ (Tartib Musnad Imam Syafi’i, pembahasan tentang sholat, bab ke 23 ‘Sholat jenazah dan hukum-hukumnya’ hadits nr. 602 jilid 1 hal. 216).

Tetapi riwayat itu bukan berarti keluarga si mayyit haram untuk mengeluarkan jamuan kepada para tamu yang hadir. Begitu juga orang yang hadir tidak diharamkan untuk menyuap makanan yang disediakan oleh keluarga mayyit. Penjamuaan itu semua adalah sebagai amalan sedekah dan suka rela terserah pada keluarga mayyit. Rasulallah saw. sendiri setelah mengubur mayit pernah diundang makan oleh keluarga si mayyit dan beliau memakannya.

.–Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu dawud dan Baihaqi dari Ashim bin Kulaib dari ayah seorang sahabat Anshar, berkata:

“Kami telah keluar menyertai Rasulallah saw. mengiringi jenazah, maka kulihat Rasulallah saw. berpesan kepada penggali kubur, kata beliau saw., ‘perluaslah arah kedua kakinya, perluaslah arah kepalanya’. Ketika beliau pulang ditemuilah orang yang mengundang dari pihak istrinya (istri mayyit), beliau pun memenuhi undangan itu dan kami menyertainya lalu dihidangkan makanan, maka beliau mengulurkan tangannya, kemudian hadirin mengulurkan tangan mereka, lalu mereka makan, dan aku melihat Rasulallah saw. mengunyah suapan di mulutnya”.

–Ada riwayat hadits dari Thawus al-Yamani seorang tabi`in terkemuka dari kalangan penduduk Yaman yang bertemu dengan para sahabat Nabi saw. yang menyatakan; ’bahwa orang-orang mati di fitnah atau di uji atau di soal dalam kubur-kubur mereka selama tujuh hari, maka mereka menyukai untuk di berikan makanan (kepada yang masih hidup) sebagai sedekah bagi pihak si mayit sepanjang waktu tersebut’.

Hadits Thawus ini dikategorikan oleh para ulama kita sebagai mursal marfu’ yang sahih. Dinamakan mursal marfu’ karena riwayat ini hanya terhenti kepada Thawus tanpa di beritahu siapa perawinya dari kalangan sahabat dan seterusnya dari Rasulallah saw.. Tetapi walaupun demikian, hadits yang melibatkan perkara ghaib (keadaan di alam barzakh), tidak akan diketahui oleh seorang pun kalau tidak dari Rasulallah saw. (penerima wahyu Ilahi).

Para ulama dalam tiga madzhab (Hanafi, Maliki dan Hanbali) menyatakan bahwa hadits mursal marfu’ ini boleh dijadikan hujjah/dalil secara mutlak, sedangkan ulama madzhab Syafi`i menyatakan boleh dijadikan hujjah jika mempunyai penyokong (selain dari mursal Ibnu Mutsayyib). Dalam konteks hadits Thawus ini, ada dua riwayat penyokongnya yaitu hadits dari ‘Ubaid dan dari Mujahid.

Sebagaimana yang telah dibahas oleh Imam Ibnu Hajar al-Haitami dalam ’al-Fatawa al-Kubra al-Fiqhiyyah’ jilid 2 halaman 30. Beliau ini ditanya dengan satu pertanyaan yang berhubungan dengan adanya pendapat ulama yang mengatakan bahwa orang mati itu difitnah/diuji atau disoal tujuh hari dalam kubur mereka, apa hadits ini mempunyai asal dari syari’at? Imam Ibnu Hajar menjawab;

Bahwa pendapat tersebut mempunyai asal yang kokoh (ashlun ashilun) dalam syara’ di mana sejumlah ulama telah meriwayatkan; 1). Dari Thawus dengan sanad yang shahih, 2). Dari ‘Ubaid bin ‘Umair, dengan bersanad dalilnya dengan Ibnu ‘Abdul Bar, yang merupakan seorang yang lebih terkenal kedudukannya (maqamnya) dari kalangan tabi`in daripada Thawus, bahkan ada yang berkata dan menyatakan bahwa ‘Ubaid bin ‘Umair ini adalah seorang sahabat karena beliau dilahirkan dalam zaman Nabi saw. dan hidup pada sebagian zaman Sayyidina ‘Umar di Makkah. 3). Dari Mujahid. Dan tiga riwayat ini adalah hadits mursal marfu’ karena masalah yang dikatakan itu (berkaitan dengan orang mati) adalah perkara ghaib yang tidak bisa diketahui melalui/secara akal. Apabila masalah semacam ini datangnya dari tabi`in maka ia dihukum kan mursal marfu’ kepada Rasulallah s.a.w. sebagaimana dijelaskan oleh para imam hadits:

’Hadits Mursal boleh dijadikan hujjah menurut tiga imam (Hanafi, Maliki dan Hanbali) dan juga di sisi kita (yakni Syafi`i) apabila ia (hadits ini) disokong oleh riwayat lain. Dan Mursal Thawus telah disokong dengan dua (riwayat) mursal yang lain (yaitu Mursal ‘Ubaid dan Mursal Mujahid), bahkan jika kita berpendapat bahwa ‘Ubaid itu seorang sahabat niscaya bersambungan riwayat nya dengan junjungan Nabi saw.’.

Selanjutnya Imam Ibnu Hajar menyatakan bahwa telah sah riwayat daripada Thawus, ’mereka menyukai/memustahabkan untuk diberi makan bagi pihak si mati selama waktu tujuh hari tersebut’. Imam Ibnu Hajar menyatakan bahwa ’mereka’ disini (dalam kalimat hadits itu--pen) mempunyai dua pengertian disisi ahli hadits dan ushul. Pengertian pertama ialah ’mereka’ adalah ’umat pada zaman Nabi saw. dimana mereka melakukannya dengan diketahui dan di persetujui oleh Nabi saw.’. Pengertian kedua mengenai ’mereka’ berarti ’para sahabat saja tanpa dilanjutkan kepada Nabi saw.’. (yakni hanya di lakukan oleh para sahabat saja)”.

 Imam as-Sayuthi juga telah membahas masalah ini dengan panjang lebar dalam kitabnya ’al-Hawi lil Fatawi’ jilid 2 dalam bab ’Thulu’ ats-Tsarayaa bi idhzhaari maa kaana khafayaa’, dimana antara lain yang dikemukakan pada halaman 194 ialah: ”Sesungguhnya sunnat memberi makan tujuh hari, telah sampai kepadaku (yakni Imam as-Sayuthi) bahwasanya amalan ini selalu diamalkan sehingga sekarang (yakni zaman Imam as-Sayuthi) di Makkah dan Madinah. Maka dzahirnya amalan ini tidak pernah ditinggalkan sejak masa para sahabat sehingga sekarang, dan generasi yang datang kemudian telah mengambilnya dari generasi terdahulu sehingga ke generasi awal Islam lagi (ash-shadrul awwal). Dan aku telah melihat kitab-kitab sejarah sewaktu membicarakan biografi para imam, banyak menyebut: ’dan telah berhenti/berdiri manusia atas kuburnya selama tujuh hari di mana mereka membacakan al-Quran’ ”.

 Telah dikemukakan juga oleh al-Hafidz al-Kabir Abul Qasim Ibnu ‘Asaakir dalam kitabnya yang berjudul ’Tabyiin Kadzibil Muftari fi ma nusiba ilal Imam Abil Hasan al-’Asy’ariy ’ bahwa dia telah mendengar asy-Syaikh al-Faqih Abul Fath NashrUllah bin Muhammad bin ‘Abdul Qawi al-Mashishi berkata: ”Telah wafat asy-Syaikh Nashr bin Ibrahim al-Maqdisi pada hari Selasa 9 Muharram tahun 490 H di Damsyik. Kami telah berdiri/berhenti/berada dikuburnya selama tujuh malam, membaca al-Qur’an pada setiap malam duapuluh kali khatam”.

 Ibnu Taimiyyah pernah ditanyai mengenai (hadits): “Bertahlil 70,000 kali dan dihadiahkan (pahalanya) kepada orang mati, agar menjadi kebebasan bagi si mayit dari api neraka, adakah hadits tersebut shohih atau tidak? Dan apabila bertahlil seseorang dan dihadiahkan (pahalanya) kepada orang mati apakah pahalanya sampai kepada si mati atau tidak”? Maka dijawab (oleh Ibnu Taimiyyah): ‘Apabila seseorang bertahlil dengan yang demikian 70,000 atau kurang atau lebih dan dihadiahkan (pahalanya) kepada si mati, Allah menjadikannya bermanfaat baginya dengan yang sedemikian itu. Dan hadits tersebut tidaklah shohih dan tidak juga dhoif. Allahlah yang Maha Mengetahui (majmu al-fatawa jilid 24 hal.324).

Dengan demikian amalan pembacaan alqur’an dan shodaqah pemberian makanan yang dihadiahkan kepada si mayit itu telah dikenal sejak zamannya para salaf sholeh. Bahkan Imam ar-Rafi`i menyatakan bahwa amalan ini masyhur dikalangan para sahabat tanpa di-ingkari. Amalan memberi makan atau sedekah kematian selama tujuh hari mempunyai nash yang kokoh dan merupakan amalan yang dianjurkan oleh generasi pertama Islam. Begitu juga pembacaan alqur’an sudah pasti mendapat pahala bagi siapa yang membacanya dan banyak para ulama pakar yang menyatakan sampai pahalanya kepada si mayit bila si pembaca meniatkan pahala bacaannya itu dihadiahkan kepada si mayit itu.

Bentuk atau cara pengamalan itu terserah kepada keluarga si mayyit, hanya yang perlu diperhatikan disini adalah amalan memberi makanan atau itu sebagai amalan suka rela dan niat sebagai amalan shodaqah untuk si mayit. Dengan demikian amalan tersebut mustahab/baik dan akan sampai pahalanya kepada si mayit. Tetapi bila keluarga si mayit mengamalkannya dengan terpaksa atau dengan alasan hanya menurut adat istiadat setempat maka amalan ini menurut sebagian ulama menjadi makruh hukum- nya.

Lebih jauh lagi, golongan pengingkar majlis tahlil ada yang mengatakan, bahwa membaca Tahlil/Yasinan dirumah si mayyit yang baru wafat, diadopsi oleh para Da’i terdahulu dari upacara kepercayaan Animisme, agama Budha dan Hindu. Menurut kepercayaan Animesme ruh-ruh keluarga yang wafat akan datang kerumahnya masing-masing setelah pada hari 1-3-7 dan seterusnya, dan ruh-ruh ini mengharap sajian-sajian dari keluarganya, bila tidak mereka akan marah dan lain-lain. Setelah mereka masuk Islam, akidah yang sama tersebut masih dijalankan golongan ini (repot untuk dihilangkannya). Maka para Da’i –penyebar Islam di Indonesia termasuk wali songo– merubah keyakinan mereka dan memasukkan ajaran-ajaran dzikir untuk orang yang telah wafat. Mereka mengatakanjuga bahwa ajaran para wali itu masih kecampuran kemusyrikan Hindu dan Budha, padahal para Wali itu telah meng-Islam-kan 85 % penduduk negeri ini. Mampukah golongan Wahabi/Salafi itu meng-Islam-kan yang 15% sisanya? Mempertahankan yang 85 % dari terkaman orang kafir saja tidak bakal mampu, apalagi mau menambah 15 % sisanya? Justru mereka dengan mudahnya mengkafirkan orang-orang yang bertauhid kepada Allah swt.

Penafsiran golongan ini –bahwa majlis tahlil sebagai adopsi dari Hindu yang tidak beragama Islam serta mempunyai banyak Tuhan dan sebagainya– adalah pemikiran yang tidak benar dan tidak berdasarkan dalil serta pikiran yang dangkal sekali ! Sejarah mencatat bahwa penyebaran agama Islam ke Indonesia dimulai pada permulaan abad ke 12-13 M ialah orang-orang Arab, khususnya kaum Alawiyin dari hadramaut/yaman selatan. Dari negaranya ini, mereka menyebar ke Gujarat (India), ada diantara mereka ini yang kenegeri Cina, Kamboja, Siam (thailand) sampai tiba ke Indonesia (baca riwayat singkat pada bab kemuliaan keturunan Nabi saw diwebsite ini). Para Da’i ini adalah para ulama yang sangat besar ketakwaannya kepada Allah swt dan mengenal baik apa yang dihalalkan dan diharamkan oleh Syari’at Islam. Mereka mengetahui banyak hadits Rasulallah saw mengenai hadiah pahala bacaan atau hadiah pahala amalan yang ditujukan kepada orang-orang yang telah wafat.

Semuanya ini telah diterangkan dan dijelaskan dalam hadits Nabi saw dan diriwayatkan para rawi yang dapat dipercaya, beberapa ratus tahun sebelum para Da’i datang ke Indonesia. Amalan penghadiahan pahala bacaan kepada mayit ini di Indonesia terkenal dengan nama majlis tahlil/yasinan. Cara pengamalan majlis tahlil bisa juga setiap negara berbeda-beda, tapi inti dan maknanya sama yaitu pembacaan doa dan penghadiahan pahala bacaan khususnya kepada orang yang telah wafat. Ada yang mengamalkannya sendirian/perorangan saja dan ada pula yang mengamalkan dengan mengumpulkan orang banyak untuk berdoa bersama yang ditujukan untuk simayyit. Bertambah banyak orang yang berkumpul untuk berdoa kepada Allah swt sudah tentu bertambah besar kemungkinan terkabulnya doa dan lebih besar syafa’at yang diterima untuk si mayyit itu.



Begitu juga majlis peringatan hari lahir Nabi saw (silahkan baca bab maulidin Nabi saw dalam website ini), peringatan kelahiran dan kewafatan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib kw, peringatan kelahiran dan kewafatan Sayyidah Fatimah Az-Zahra putri Muhammad saw dan lain sebagainya, sudah sering diadakan dan diamalkan juga oleh kaum muslimin dari berbagai madzhab: Madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i dan lainnya diseluruh dunia. Pengikut madzhab-madzhab ini sudah ada dimulai pertengahan abad ke 8 M atau sekitar tahun 100 Hijriah yaitu mulai zamannya Imam Ja’far Shodiq ( 80-148 H/ 699-765 M) bin Muhamad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husin bin Ali bin Abi Thalib kw, yang mana Imam Hanafi, Imam Malik [ra] pernah berguru pada Imam Ja’far ini. Malah sekarang ,peringatan maulid Nabi saw khususnya, sudah menyebar serta dilaksanakan oleh sebagian besar kaum muslimin diseluruh dunia diantaranya: Malaysia, Indonesia, Mesir, Irak, Iran, Afrika,Turki, Yemen, Marokko, negara Saudi Arabia, Pakistan dan orang-orang muslimin yang berdomisili di Eropa dan Amerika.Tidak lain mengumpulkan orang untuk peringatan keagamaan ini atau ntuk membaca dzikir tahlil adalah hasil ijtihad yang baik dari para pakar Islam, yang semuanya ini tidak keluar dari garis yang telah ditentukan oleh syari’at.



Didalam Islam kita dibolehkan serta dianjurkan untuk berdakwah dengan cara apapun selama cara tersebut tidak keluar dari garis-garis syariat akidah Islam. Para Da’i masa lalu memasukkan unsur-unsur ajaran islam yang mudah diserap, dengan merubah beberapa kata dan kalimat keyakinan orang-orang Hindu yang muallaf ini, kepada kalimat dan tauhid yang benar. Jadi para Da’i/ahli dakwah ini tidak merubah adat mereka ini tapi memberi wejangan agar mereka berkumpul tersebut membaca dzikir pada Allah swt dan berdoa untuk si mayat, sedangkan sajian-sajian tersebut tidak ditujukan pada ruh mayat tapi diberikan para hadirin sebagai sedekah/penghormatan untuk tamu!

Dengan demikian para Da’i merubah keyakinan orang-orang hindu yang salah kepada yang benar, yang sesuai dengan syari’at Islam. Dakwah mereka ini sangat hebat sekali mudah diterima dan dipraktekkan oleh orang-orang yang fanatik dengan agama dan adatnya sehingga –yang tadinya di Jawa 85 % beragama Hindu menjadi 85% beragama Islam– mereka memeluk agama yang bertauhid satu! Berdzikir pada Allah swt itu boleh diamalkan setiap detik, menit, hari, bulan dan lain-lain lebih sering lebih baik. Dakwah yang bisa merubah adat buruk suatu kaum kepada adat yang sejalan dengan syari’at Islam serta bernafaskan tauhid adalah dakwah yang sangat baik sekali. Dengan demikian kaum itu akan kembali kejalan yang benar, yang diridhoi Allah swt. Jadi para Da’i waktu itu bukannya mengadopsi adat-adat hindu –sebagaimana isu-isu golongan pengingkar– tetapi mengajari pengikut adat Hindu ini kepada jalan yang benar yang dibolehkan oleh syari'at Islam. Dalam hal ini apanya yang salah....?

Umpama saja, kita toleran dan benarkan sejarah yang ditulis oleh golongan pengingkar ini mengenai majlis tahlil tersebut, sekali lagi umpamanya diketemukan sejarah yang benar/authentik dari zamannya para Da'i ke Indonesia yaitu meneruskan adat Hindu ini dengan mengarahkan kepada amalan-amalan dzikir/tahlil yang ditujukan untuk yang hadir dan si mayit apanya yang salah dalam hal ini? Para Da'i merubah dan mengarahkan adat hindu yang keliru ini yang mempercayai akan marahnya ruh kerabat-kerabat mereka yang baru wafat bila tidak diberi sajian-sajian kepada si mayyit ini selama 1-3-7 hari kepada adat yang dibolehkan dan sejalan dengan syari'at Islam. Dengan demikian adat-adat hindu yang masih dilakukan oleh orang-orang yang baru memeluk agama Islam/muallaf ini, diteruskan dengan bacaan-bacaan dzikir serta do'a-do'a pada Allah swt. yang bisa bermanfaat baik untuk si mayit khususnya maupun untuk orang yang masih hidup. Sedangkan sajian-sajian yang biasanya oleh kaum hindu disajikan kepada ruh si mayyit, dirubah oleh para Da'i untuk disajikan kepada para kerabat mereka atau kepada para hadirin yang ada disitu.

Sedangkan waktu pelaksanaan berdzikir dan berdo'a kepada Allah swt. untuk si mayyit selama 1-3-7 hari atau lebih banyak hari lagi, ini semua boleh diamalkan. Karena didalam syari'at Islam tidak ada larangan waktu tertentu setiap waktu untuk berdzikir dan berdo'a kepada Allah swt. yang ditujukan baik untuk orang yang masih hidup maupun yang sudah wafat. Malah sebaliknya banyak riwayat Ilahi dan hadits Rasulallah saw. yang menganjurkan baik secara langsung maupun tidak langsung untuk berdzikir dan berdo'a setiap saat, lebih banyak waktu yang digunakan untuk berdzikir dan berdo'a itu malah lebih baik!!

Sekali lagi bahwa para Da'i waktu itu bukannya mengadopsi adat-adat hindu sebagaimana pandangan golongan pengingkar tetapi mengajari pengikut adat Hindu ini kepada jalan yang benar yang dibolehkan oleh syari'at Islam. Dua kata-kata mengadopsi dan mengajari itu mempunyai arti yang berbeda!

Ada golongan pengingkar yang melarang tahlil/yasinan ini dengan berdalil hadits; 'Man tasyabbaha biqaumin fa hua minhum' (Siapa yang menyerupai suatu kaum, maka (dia) itu bersama dengan mereka (kaum tsb.)' Kata mereka selanjutnya; bukankah tahlil itu menyerupai perbuatan kaum hindu, dengan demikian orang yang menyerupai perbuatan kaum ini maka tergolong sebagai kaum itu juga.

Penafsiran mereka tentang hadits diatas adalah penafsiran yang tidak tepat dan dangkal sekali. Lebih mudahnya kami ingin bertanya kepada golongan pengingkar apakah Rasulallah saw juga akan bersama dengan kaum Yahudi? Karena Rasulallah saw menganjurkan kepada kita untuk puasa Asyurah (10 muharram), padahal kalau kita kaji riwayatnya bahwa beliau saw. melihat kaum Yahudi di Madinah puasa pada hari 10 Muharram tersebut. Beliau saw. bertanya kepada kaum Yahudi mengapa mereka ini berpuasa pada hari itu? Mereka menjawab: Pada hari ini Allah swt. menyelamatkan nabi mereka dan menenggelamkan musuh mereka. Kemudian Nabi saw. menjawab: Kami lebih berhak memperingati Musa daripada kalian! (Nahnu aula bi muusaa minkum). Walaupun puasa Asyura ini meniru perbuatan kaum yahudi, tetapi baik untuk diamalkan karena tujuannya sangat baik sekali yaitu menghormati dan bersyukur kepada Allah yang menyelamatkan Nabi Musa as.

Jika pikiran golongan pengingkar yang telah dikemukakan dituruti, beranikah mereka ini menuduh Nabi saw sebagai seorang Yahudi atau beliau saw tergolong sebagai seorang yahudi?, karena puasa sunnah ‘Asyura (10 Muharram) yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw. dan beliau anjurkan kepada para sahabatnya sebagai perbuatan meniru-niru orang Yahudi atau sebagai adopsi dari kaum ini.

Wahai golongan pengingkar majlis tahlil, janganlah kalian selalu mencari-cari alasan untuk melarang orang tahlil dengan memasukkan macam-macam riwayat atau sejarah yang mana semuanya ini tidak ada sangkut pautnya dengan larangan agama untuk membaca tahlil/yasinan dan hanya menambah dosa kalian saja !! Jadi selama ini yang mengatakan menurut ceritera bahwa tahlil/yasinan adalah warisan atau adopsi dari kepercayaan Animesme, Hindu atau Budha adalah tidak benar! Ini hanya sekedar Dongengan Belaka yang diada-adakan oleh mereka yang anti majlis dzikir.

Ingatlah saudara-saudaraku, mereka ini berkumpul untuk berdzikir pada Allah swt. dengan niat dan tujuan untuk mendekatkan diri kepada-Nya, yang mana pembacaan dzikir ini sudah pasti mendapat pahala, karena banyak ayat ilahi dan hadits Rasulallah saw. mengenai pahala bacaan-bacaan dzikir (tahmid, sholawat, takbir, tahlil dan lain-lain) yang dibaca dimajlis-majlis tersebut (rujuklah pahala baca Al-Qur’an).

Bila golongan yang tidak senang amalan tersebut serta ingin menyerukan yang baik dan melarang yang munkar/jelek, laranglah dan nasehatilah secara baik pada orang-orang yang melanggar agama yang pelanggaran tersebut sudah di sepakati oleh seluruh ulama madzhab Sunnah tentang haramnya (pelacuran, peminum alkohol dan lain-lain). Janganlah selalu menteror, mensesatkan atau mengharamkan majlis dzikir, tawassul, tabarruk dan sebagainya, yang semuanya masih mempunyai dalil.

Dan janganlah mudah mengafirkan golongan muslimin yang berdosa tersebut selama mereka masih mentauhidkan Allah swt. dan mengakui kesalahan-kesalahan yang di perbuatnya. Camkanlah hadits Rasulallah saw. yang mengecam orang yang menuduh muslimin sebagai kafir, fasiq, munafik dan lain sebagainya !

Bila golongan pengingkar ini tidak mau mengamalkan tawassul, tabarruk, ziarah kubur, kumpulan majlis dzikir dan sebagainya, disebab kan mengikuti wejangan ulama mereka yang melarang hal tersebut, silahkan dan itu adalah urusan mereka sendiri dan tidak ada kaum muslimin lainnya yang mencela, mensesatkan mereka atau merasa rugi dalam hal ini, karena semuanya itu amalan sunnah bukan wajib. Tapi janganlah, karena keegoisan dan kefanatikannya pada wejangan ulamanya sendiri, menyuruh dan mewajibkan muslimin seluruh dunia untuk tidak melaksanakan tawassul, tabarruk, kumpulan dzikir bersama dan sebagainya, sampai-sampai berani mengkafirkan, menghalalkan darahnya, mensesatkan dan memunkarkan mereka karena mengamalkan hal-hal tersebut. Orang-orang yang mengamalkan kebaikan ini sebagai amalan tambahannya serta tidak ada diantara mereka yang mensyariatkan atau mewajibkan amalan-amalan tersebut.

Pikiran mereka seperti itu juga akan dibodohkan oleh muslimin, karena banyak wejangan para pakar yang berkaitan dengan amalan-amalan diatas, serta mereka ini ikut bercengkerama didalam majlis-majlis tersebut! Bagi non-muslim akan lebih mempunyai bukti atas kelemahan muslimin dan mereka akan berpikiran bahwa agama Islam adalah agama yang suka mencela, tidak toleransi, dengan sesama agamanya saja mereka mensesatkan atau mensyirikkan, apalagi dengan kita yang non-muslim !

Perselisihan/perbedaan dalam hal tersebut seharusnya diselesaikan secara baik oleh sesama ulama-ulama Islam, sehingga bisa mewujudkan persatuan dan kesatuan ummat Islam.

Sebagaimana telah dikemukakan bahwa perbedaan pendapat setiap manusia atau golongan itu selalu ada, tetapi bukan untuk diperuncing atau di pertajam. Setiap golongan muslimin berdalil pada Kitabullah dan Sunnah Rasulallah saw., tetapi berbeda cara penafsiran dan penguraiannya. Alangkah baiknya kalau sesama muslim satu sama lain tidak mengkafirkan, mensesatkan pada orang yang senang mengamalkan amalan-amalan sunnah yang baik itu! Begitupun juga kita harus saling toleransi baik antara muslimin sesamanya maupun antara muslimin dan non-muslimin (yang tidak memerangi kita). Dengan demikian keharmonisan hidup akan terlaksana dengan baik.

Telah dikemukakan juga bahwa kita dibolehkan mengeritik/meluruskan paham atau keyakinan suatu golongan muslimin yang sudah jelas dan tegas dilarang oleh agama umpamanya; menyembah berhala, mengatakan bahwa Nabi Muhammad sebagai anak Allah swt., menyerupakan/tasybih dan tajsim/penjasmanian Allah swt. dengan makhluk-Nya secara hakiki, tidak mempercayai adanya Malaikat, menghalalkan makan babi, main judi, membolehkan orang meninggalkan sholat wajib dengan sengaja dan sebagainya, ini semua sudah jelas bertentangan dengan ajaran syariat Islam. Semoga kita semua diberi Taufiq oleh Allah swt. Amin

[edit]

Pasang INTERNET FASNET PLUS TV KABEL FIRSTMEDIA
Pasang FIRSTMEDIA internet speed hingga 100mbps + CHannel TV HD hingga 50HD hub 087777313417 only SMS